Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

  • Home
  • Contact
facebook linkedin twitter

RETORI-KAF

BY KAFIYATUL FITHRI

    • Home
    • College
    • _High School
    • _Sepuluh Nopember
    • Lifestyle
    • Thought
    • Travel
    • Food
    • Story
    Untuk kesekian kalinya bahagia karena dipertemukan dengan sebuah keluarga kecil yang benar-benar menjaga penuh makna solidaritas dan kekerabatan. Setelah e55 lalu apa?

    Jadi begini, kalau saja saya bukan ITS, bocah ingusan ini tidak akan mengenal yang nama supporteran. Kalau saja saya bukan Elektro ITS, saya tak tahu “FORZA TEKTRO”, kata yang selalu kalian ucapkan selama berada di tribun. Saya pun juga tak akan mengenal apa itu banner 3D. Kalau saja saya bukan e55, saya tidak akan pernah mengenal SUTET 2015 sebagai bagian yang punya peran penting disini.

    SUTET, awalnya adalah sebuah KPP dari pengkaderan kami. Bukan KPP yang saya rasakan, tapi pengalaman yang luar biasa bersama teman-teman angkatan yang begitu antusias menjalaninya. Bukannya saya mengunggulkan kata antusias tapi memang saya sendiri baru merasakan atmosfer berada di tribun setelah saya menjadi mahasiswa baru disini. Masih ingat betul saat The Real FOG, saat itu kami masih bagian dari Fakultas Teknologi Industri. Kebetulan saya saat itu menjadi kestari bagian ticketing. Karena nggak mau ketinggalan teman-teman pakai baju angkatan, nyanyi syalalalala kenceng-kenceng di tribun bersama warga, alhasil, “Ganti shift ticketing ya”, lalu berlari menuju tribun, copot id card panitia, lalu syalalalala.

    Hampir setahun SUTET berkiprah, ada beberapa hal yang saya pahami saat ini. Supporter bukanlah sekumpulan orang yang dipaksa nyanyi sambil koreo. Supporter adalah mereka yang menikmati pertandingan dengan cara mereka yang elegan. Kalah menang tetap berterima kasih. “Terima kasih terima kasih, supporter elektro, terima kasih” (nyanyi dulu boy)

    Next
    Part ini dilarang baper, terpelatuk, maupun emosi berlebih saat baca. Deal ya!

    Adu supporter, selalu ada di tiap kesempatan. Ada saja pikiran-pikiran nakal muncul. Lawan departemen sepuh yang sekarang udah beda fakultas, endingnya begini, “Kalo mereka menang endingnya mau party di tengah lapangan nih”. Lawan departemen dari fakultas yang banyak cewek cantiknya, sebuah kalimat terlontar, “Oiya supporteran kan polusi suara, tidak baik untuk lingkungan sekitar”. Lawan fakultas yang banyak ceweknya, disenggol sama temen angkatan, “supporteran sana aja fi, banyak temennya”. Terakhir, mengambil cerita unik kemarin (sambil senyum-senyum ngetiknya). Lihat timeline didominasi kata “biru” “biru boongan” dan “belut listrik” bikin ketawa sendiri di kamar kos. Oh, begini ternyata cara untuk mentrigger lawan.

    -          Almamatermu jauh lebih biru, VIVAT!!!    -

    Ya, kita sudah regenerasi! Cepat sekali. Geram sendiri di pojokan lihat Yulizar Edo ngomong regenerasi. (cepet banget woi)
    Melihat dedek-dedek di depan senyum bahagia menyambut posisi mereka sebagai SUTET 2016, ikut seneng juga, eh tepuk tangan juga wah. Rasanya kaya udah ngerawat anak sendiri. (ih udah pada gede ya).

    Kemudian

    KPP kita selesai.

    Jangan berhenti sampai sini.

    Kalau kamu berhenti, yang lain berjuang sendiri?

    Sakit loh berjuang sendirian.

    Sekian.

    Kaf

    5884



    Dokumentasi: SUTET
    Continue Reading
    Bahkan orang yang dekat denganku pun tak seberuntung diriku
    Isak tangis menyambut sebuah cerita
    Dia mencinta tapi tak tau dimana cintanya
    Ah... Ternyata sudah bersama yang lebih berjaya
    Ini mungkin akan membunuhnya secara perlahan
    Tidakkah semestinya kini ku bersyukur dengan keadaan yang sekarang
    Lucu bila mengeluh sehari tak bersua dan bersapa dengan sang pujaan cinta
    Bodohnya aku dan mereka
    Yang sama-sama tak tahu dibalik maksud sang dalang nirwana
    Bukan bermaksud menjadi sesosok manja yang haus akan kenikmatan belaka
    Untukmu yang cenderung resah atas semua kisah yang telah Tuhan berikan kepada ciptaan-Nya
    Lihat sekelilingmu
    Kau akan tahu perihnya hidup jika tidak dilihat dari sudut pandangmu
    ❤

    Continue Reading
    Seminggu terakhir udah banyak kegiatan yang menguras keringat dan pikiran di perantauan belum? Yah beruntung banget deh kalau masih bisa ketemu keluarga di rumah (ayif masih kena homesick)
    Melanjutkan postingan sebelumnya yang menyatakan ane sebel banget harus balik ke kota orang sebelum jadwal FRS dan ketemu doswal. Minggu lalu sempet nginep di rumah kakak dikarenakan jam 11 malam baru sampai Surabaya. Keesokan harinya berangkat menuju singgasana baru setelah melepas kontrak di asrama selama setahun.
    Setelah beres-beres baju, istirahat sebentar lalu teringat dengan rapat komunal di SCC (anak ITS pasti tau). Ayif berjalan dari kost ke SCC sekitar 15-20 menit, lumayan jauh juga tapi enak kalau jalan sambil headset an. Nah ini nih dimulai sebuah tragedi menyebalkan, yuk disimak.
    Tepat di depan jurusan Teknik Lingkungan seseorang menaiki sepeda motor menghentikan langkahku di pinggir jalan. Sebelumnya ia sempat memanggilku "mbak mbak mbak". Awale gak tak gubris lawong aku gak kenal.
    Kemudian aku menoleh, "Iya mas?"
    "Anak ITS ya mbak"  tanya dia
    Lalu aku jawab iya, mungkin dia mau nanya jalan.
    Dengan nada bersedih dan tempo bicara yang lumayan cepat aku sedikit menangkap perkataannya.
    "Apa mas? Gak denger" kataku sambil melepas headset di telinga.
    "Anu mbak gini mbak, atm saya dibawa anak FMIPA. Mbak punya kenalan anak FMIPA gitu nggak angkatan 2013. Tolong banget mbak saya mau balik ke Pasuruan tapi bensin saya habis, atm sama dompet dibawa anak FMIPA. Saya pinjam 20 mbak buat beli bensin"
    Aku agak kewalahan mendengarkan dia bicara cukup cepat, intinya dia bicara seperti itu.
    "Mas namanya siapa?"
    Dia mengaku bernama Doni, jurusan Tekla ITS 2013 (maaf buat anak tekla yang pernah ditanyain sasmita tentang doni itu, aku sedang tertipu)
    Dengan goblok plus oon plus plus, aku memberi uang 50 kepada orang itu. Bodohnya lagi kenapa gak aku cek dulu bensin di motornya 
    Lalu dia tanya, "mau kemana mbak?"
    "Ke SCC"
    "Oh, Cafe SCC" balas dia
    Hah, agak sedikit aneh anak ITS bilangnya Cafe SCC. Tapi ada benernya juga sih emang tulisan di gedungnya Cafe SCC. Baiknya, dia mengantarkanku ke SCC. Agak aneh juga waktu dia mau berhentiin aku di parkiran dekat plasa Dr. Angka. (duh masih jauh lah, ini anak ITS bukan sih). Kecurigaan mulai muncul.
    Singkat cerita dia bilang mau ngembaliin duit, tapi sewaktu aku minta nomor hp atau id line malah pakai alasan hp mati. Dia terihat buru-buru pengen balik dan terus mengucapkan "Terimakasih banyak mbak, semoga dilancarkan rejeki mbak, lancar kuliah". AMIN
    Selama rakom berlangsung berasa gak tenang, uang lima puluh ribu melayang cuma cuma . Kenyataan pahit, ternyata beneran ditipu. Setelah bertanya ke temen sekolah yang juga kuliah di FTK, pada akhirnya tidak ada yang bernama Doni di jurusan tersebut.
    Akhir cerita, semoga orang yang telah berbuat semacam itu diberi kelancaran hidup, bahagia dunia akhirat . Buat para komplotan yang se visi misi dengan dia, cari kerjaan yang bener kang, apalah ayif cuma anak kost yang belum punya penghasilan masih minta ke orang tua, ke mbak mas ayif. Itu duit buat beli sabun cuci yang udah mau habis, yakali mau nyuci pake pasir, kang .
    Waspada ya man teman kalau ada yang sok sedih minta pinjaman duit kayak gitu, modus doang. Sasaran empuknya mahasiswa yang lagi jalan sendirian kayak ayif kemarin. Udah banyak korban loh 
    Sekian cuplikan kisah sedih blog ini. Ayif harap bisa jadi bahan pembelajaran dan tetap terus waspada. Jangan mudah percaya sama orang yang nggak dikenal, bisa saja nanti malah kecolongan.
    Terimakasih sudah mampir dan sampai jumpa lagi minggu depan.
    See ya, fellas 
    Continue Reading
    Libur panjang yang menuai penyesalan. Siap atau tidak mengambil resiko yang akan aku ambil ketika sudah menjalani hari-hari itu. Ya Tuhan, libur tiga bulan ini yang semestinya aku gunakan untuk quality time bersama keluargaku sudah habis masanya. Sesal, menyesal, sungguh disesalkan. Liburan bulan pertama dengan ego yang terlalu memuncak aku berangkat seorang diri menuju ibu kota provinsi yang ramai dihuni pendatang dari seluruh penjuru negeri. Berbekal dokumen lengkap beserta beberapa potong pakaian menemaniku melewati teriknya kota itu.
    “Pak, Gubeng Baru turun sebelah mana ya?” Kutukan si manja yang dituntut mandiri untuk turun dari stasiun yang sama sekali belum pernah ia lewati.
    Awalnya ibu menyuruhku naik angkot menuju asrama. Matahari terlalu terik dan muncul perasaan ‘takut salah jalan’. Tak mau buang-buang waktu kuhampiri tukang ojek dekat gerbang stasiun. Ongkos awal cukup untuk makan dua hari di sini. Tawar sana sini diambilah kesepakatan harga yang lumayan standar, dua puluh ribu rupiah. Dirundung kegelisahan sepanjang perjalanan. Uang dua puluh ribu, seharusnya masih ada sisa lima belas ribu jika mau berjalan kaki ke depan fakultas kedokteran lalu naik angkot menuju asrama. Ah, nasi sudah menjadi bubur.
    Begitu mulus mengawali karir menjadi seorang aktivis. Mengumpulkan berkas dan menjalani screening dalam satu minggu, lalu menunggu pengumuman hingga akhirnya dinyatakan lolos seleksi. Bahagia? Kupikir tidak. Ketakutan ketika tidak bisa pulang kampung ketika weekend, IP turun di semester tiga seperti mitos-mitos yang beredar di jurusan, hingga tersingkirnya kata istirahat dari kamus kehidupanku. Kalau mencurahkan hati also known as berkonsultasi kepada teman yang notabene hampir bijak, mereka akan memberi solusi “Buang pikiran negatif, selama masih bisa bagi waktu semuanya akan baik-baik saja”. Basi sekali menurutku, Ya Tuhan. Rasakan perbedaan antara berorganisasi saat SMA dan kuliah. Pertama, saat SMA ketika pulang agak malam sekitar pukul setengah tujuh selepas maghrib ibu dan ayahmu sudah siap dengan amarah dan rasa kekhawatiran yang mereka pendam. Saat itu entah tersadarkan diri atau tidak, kau tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kedua, saat kau mulai mengurusi kegiatan besar di sekolah lalu pulang hanya membawa lelah, ayahmu akan memberikan pijatan yang membuat tubuhmu lebih ringan dan ibumu akan menawarkan kamu makan malam. Itu sebuah kebahagiaan bagiku. Bagaimana dengan kuliah? Jangankan pulang pukul tujuh malam, bahkan ketika kau tidak pulang ke kos pun orangtuamu tidak akan pernah tahu. Merasakan kelelahan selepas rapat komunal yang begitu menguras pikiran, jarang sekali ada teman kos yang memberi secuil simpatinya kepadamu dengan sekedar bertanya “Bagaimana dengan harimu?”.
    Dikatan cengeng, iya memang sekilas terlihat cengeng. Aku mulai kuliah saat umurku menginjak 17 tahun lebih enam bulan, usia yang ideal untuk anak kelas tiga SMA. Tekadku untuk melanjutkan kuliah benar-benar sudah bulat. Kau tahu? Di lingkungan sekitarku tak banyak anak perempuan seusiaku yang melanjutkan kuliah di dalam maupun di luar kota. Kebanyakan dari mereka memilih bekerja bahkan melangsungkan pernikahan. Banyak juga yang bergunjing, “Sekolah jangan tinggi-tinggi, kalau disini beruntung bakal sukses sendiri.”
    Mengapa juga aku disini kalau jadi pengangguran, berangkat ke kota orang siapa tau dapat rezeki sebelum menyandang gelar. Sebuah guyonan kecil terlontar dari ibu saat aku tengah asik bermain lego dengan keponakanku.
    “Alhamdulillah bisa kuliah, kalau tidak sudah ibu carikan suami untukmu.” Rencana Tuhan lebih indah. Aku tidak diizinkan untuk menikah dulu sebelum membelikan ayah mobil dan membangun rumah disamping kebun.
    “Orang daerah timur situ, kemarin menawarkan anaknya lagi.” Lanjut Ibu.
    Aku sedikit cemberut, “Ibu kenal?”
    Ibuku lantas menggelengkan kepala.
    “Aku sudah beda jaman dengan Siti Nurbaya.”
    Jangan pernah menyesal mengambil keputusan untuk kuliah, tapi berpikirlah ketika akan menjalani suatu kesibukan diluar jam kuliah. Kisah hidup orang memang tak sama, bisa jadi ketika kau tidak jadi kuliah ayahmu malah membelikanmu sawah lalu kau menjadi petani hebat atau bisa saja kau tidak kuliah terlebih dahulu untuk bekerja lalu berangkat kuliah. Tak peduli apapun langkah baik yang kau ambil, kutunggu kalian empat belas tahun mendatang, 1 Januari 2030.
    Continue Reading
    Bola voli seberat 0,2 kg itu berhasil mendarat dan menghantam tepat di dahi seorang gadis bernomor punggung dua belas. Dia melirik ke arahku, spontan aku cekikikan melihatnya kesakitan. Aku menghampiri dan melihat wajahnya yang dekil dan kusam dipenuhi debu tipis yang menempel di pipinya.
    “Masih sakit?” tanganku mengetuk dahinya dan bisa dipastikan bagian tubuh paling jenong itu akan terasa lebih sakit. Aku merasakannya.
    “Makanya kalau ada umpan itu diladenin, bukannya malah bengong.” Aku masih pada posisi menatap wajah polosnya.
    “Sialan! Bisa tidak sehari aja gak jahat sama Mira?” Katanya sambil menggerutu. Dia mulai tersenyum saat tanganku beralih mengusap rambutnya.
    Dia adalah Almira, putri semata wayang teman ibuku yang dirawat oleh orangtuaku sejak usianya enam tahun. Karena seumuran, aku dan Almira bersekolah di tempat yang sama walaupun beda kelas. Siapa sangka banyak yang mengira aku dan Almira berpacaran. Berangkat dan pulang sekolah bersama, bermain voli setiap Sabtu pagi, dan membawa bekal yang sama setiap hari. Meskipun aku dan Almira memliki banyak persamaan dan sering berdamai, tapi tak jarang ada pertengkaran di antara kami. Almira memang terlihat masih seperti anak kecil, maka dari itu ayah dan ibuku mewajibkanku untuk menjaga dan melindungi Almira saat di sekolah. Alhasil dia menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
    “Aku mogok latihan kalau hujan turun. Tolong bilang ke teman-temanmu untuk jangan memaksaku bermain voli!” Bentak Almira kepadaku setelah beberapa kejadian sebelumnya aku dan teman-teman tetap memaksanya untuk ikut latihan. Sejauh yang aku tahu, Almira paling tidak suka ketika hujan turun dan dia masih berkeliaran di luar rumah. Entah dia memiliki penyakit Aquagenic pruritus atau sejenis alergi terhadap air, ayah dan ibu tak pernah sekalipun bercerita kepadaku.
    Aku tetap melanjutkan latihan meskipun cuaca hari ini tampak mendung. Almira mulai menampakkan kegelisahannya. Dia tak lagi fokus dengan bola di hadapannya. Berulang kali aku berteriak agar tetap fokus, apa daya himbauan dariku tak bisa melawan rasa takutnya pada air hujan.
    “Kamu kenapa sih?” Aku memegang lengannya erat.
    “Ayo berteduh, jangan hujan-hujan” Jawabnya.
    Aku mengarahkan badanku tegap di hadapannya. Mataku menatap lurus ke bola mata Almira. “Dengarkan aku, tolong untuk kali ini saja kita latihan meskipun hujan datang. Besok lusa ada pertandingan” Aku masih memegang kedua lengannya.
    Almira berusaha melepaskan lengannya dari genggamanku. “Kamu dan teman-temanmu saja yang latihan. Aku tidak mau tersentuh air hujan. Dengar itu, Farel?” Balas Almira dengan sedikit membentak.
    Langit perlahan mulai petang. Aku dan Almira masih bertahan dengan argumen masing-masing.
    “Alergi? Kamu gatal-gatal? Kulitmu mengelupas? Hei Mira, Kamu tak pernah bercerita apapun tentang ini. Apakah kamu tidak ingin ada pertandingan? Atau kamu tak pernah punya impian untuk membanggakan ayah dan ibumu?” Aku sedikit emosi karena ku pikir Almira terlalu egois.
    “Jangan pernah sebut orangtuaku! Aku tidak pernah mengajakmu bertengkar seserius ini. Tapi kali ini aku benar-benar benci padamu!” Almira menitikkan air matanya. Hujan mulai turun, Almira pun berlari menuju kelas dan aku masih terdiam membisu di tengah lapangan.
    Dan sore itu, hujan deras membasahi gedung sekolah kami. Sekolah sepi, hanya tinggal aku dan Almira berada di salah satu kelas yang tak jauh dari lapangan. Aku menarik kursi ke dekat Almira yang duduk termenung di pojokan.
    “Maafkan aku, Mir.” Tanganku gemetar menyentuh tangannya. Perlahan dia mulai mau melihatku dibalik jaket birunya.
    “Sudahlah lupakan. Aku juga minta maaf karena terlalu egois.” Dia menjabat tanganku dan menampakkan senyumnya.
    Aku menghela napas panjang “Sebenarnya apa yang kamu takutkan? Toh aku selalu melindungimu kalau terjadi sesuatu. Yah gak harus diceritakan kalau memang itu terlalu privasi buatmu.”
    Suara petir yang menggelegar tak membuatnya lantas kaget dan berteriak. Dia hanya menutup mata dan diam sejenak. Almira meneteskan air mata. “Hujan deras sepuluh tahun yang lalu benar-benar kejam. Dia yang mengantarkan ayah dan ibuku ke pusara. Ketika itu aku sedang berlibur ke luar kota menyusuri hari yang panjang hingga aku tertidur pulas. Hari itu hujan turun sangat deras dan membuat jalan yang kami lewati semakin licin. Entah apa penyebabnya tiba-tiba ayah hilang kendali dan mobil kami terperosok ke jurang. Mengapa aku tidak ditakdirkan untuk mati saja saat itu jika aku terbangun hanya untuk melihat ayah dan ibuku meregang nyawa disana. Tidak ada yang tau keberadaan kami. Hujan dan petir itu seolah menjadi penghalang ayah dan ibuku untuk selamat. Aku pun pingsan dan terbangun di sebuah rumah. Aku melihatmu, tante, dan oom, tapi tidak dengan kedua orang tuaku. Semuanya sudah berakhir”
    Aku begitu terpukul mendengar kisahnya. Tanganku meraih lengan Almira dan memeluknya. “Jangan bersedih lagi, ada Farel disini. Kamu harus tau, tidak semua rintik hujan itu kejam. Kejadian yang menimpamu itu rencana Tuhan.” Perlahan aku mengusap air mata di pipinya.
    “Ayo ikut aku.” Aku menggandengnya keluar kelas.
    Hujan tak sederas tadi. Aku menatap Almira yang masih ketakutan dengan hujan. “Tidak ada yang perlu ditakuti. Hujan tak lebih menyeramkan dari bola voli yang terus mengejarmu hingga mengenai dahi. Kamu seorang pemberani, bahkan lebih berani dariku saat berkelahi dengan Tatiana si tukang genit. Ulurkan tanganmu dan biarkan hujan menyentuhnya.”
    “Tidak!” Almira menolak dengan keras.
    Aku mengulurkan tanganku ke tetesan air hujan. “Lihat! Ini dingin dan menyenangkan.” Aku tersenyum dan kembali menarik tangannya.
    Tangannya bergemetar, dia bersembunyi di belakangku. Dan akhirnya satu per satu tetes air hujan mengenai telapak tangannya. Tangan kirinya menggenggam bajuku dengan erat. Sudah puluhan kali air hujan menetes, dia mengintip dan mulai tenang.
    “Dingin.” Dia membolak-balikan tangannya.
    Aku berjalan menuju lapangan. Tubuhku basah. “Almira, kalau berani ayo kesini! Kalau tidak, aku akan menganggapmu lebih genit dari Tatiana!” Aku berteriak dari lapangan.
    Almira terlihat geram. Dia melepas sepatunya dan berlari ke lapangan. Dia menutup matanya, mungkin sedang merasakan dinginnya hujan. Dia memelukku dan mengucapkan terimakasih.
    “Kamu sudah pernah jatuh cinta?” Pertanyaan Almira membuatku gugup.
    Aku menaikkan bahuku. “Kamu jatuh cinta?”
    “Iya, aku mulai jatuh cinta.” Dia menyipitkan matanya.
    “Kepada siapa?”
    Almira mengumpulkan air hujan di tanggannya. “Kepada orang yang sudah memaksaku untuk berkenalan dengan air hujan.” Kumpulan tetes air hujan itu berhasil dilemparkan ke wajahku. Dia berlari ke tengah lapangan. Sungguh bahagia melihatnya tersenyum lepas seperti sedia kala.
    Bagiku, hujan menyimpan cerita di setiap tetesnya. Hujan bisa memberimu cinta dan petaka. Hujan kala itu memang kejam, tapi tidak sekejam diriku yang telah mencuri hati Almira hingga membuatnya jatuh cinta.

    -Selesai-
    __________________________________
    Alhamdulillah lolos jadi kontributor lomba cerpen tentang hujan by WA Publisher 2016. Cihuy 😄
    Meskipun belum diberi anugerah menempati 1st place, semoga bisa nambah pengalaman nulis cerita aduhai nan menggemaskan 😳

    Happy reading
    See ya, fellas 😚
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Photo Profile
    Kafiyatul Fithri ENGINEERING STUDENT

    Spread Kindness Like Confetti


    An engineering student who loves words by share it to the others through the pen and the lens

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Community

    Blogger Perempuan

    Labels

    BPN BPNRamadhan College Food HighSchool Lifestyle SepuluhNopember Story Thought
    Foto saya
    Kafiyatul Fithri
    Lihat profil lengkapku

    Recent Post

    Sreet Food Bundaran ITS Surabaya : Euphoria Ramadan a la Kampus Pahlawan

    Popular Posts

    Contact Us

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Followers

    Visitors

    Blog Archive

    • Mei 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juni 2018 (1)
    • Maret 2018 (2)
    • Mei 2017 (1)
    • Oktober 2016 (1)
    • Agustus 2016 (2)
    • Juli 2016 (3)
    • Juni 2016 (3)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2014 (1)
    • November 2013 (8)

    Cari Blog Ini

    Laporkan Penyalahgunaan

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top