Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

  • Home
  • Contact
facebook linkedin twitter

RETORI-KAF

BY KAFIYATUL FITHRI

    • Home
    • College
    • _High School
    • _Sepuluh Nopember
    • Lifestyle
    • Thought
    • Travel
    • Food
    • Story

    10 November 2018.

    Tentang Metallica
    Hari ini, malam ini untuk pertama kalinya saya nonton konser musik bergenre metallica. Sungguh, kesan pertama di benak saya saat merasakan genre musik ini adalah... menyenangkan.
    Saya tidak peduli dengan penampilan penyanyi maupun penontonnya. Jantung saya berdegup kencang mengikuti irama lagu bertempo cepat ini. Kepala saya refleks ikut ngangguk-nganggung mengikuti pukulan drum. Sangat menyenangkan menurut saya. Jika lain dengan pendapatmu, tidak apa :)

    ITS dan Power Metal
    Saya terpukau dengan kosep Dies Natalis tahun ini. Rangkaian konsep acara yang out of the box, berani ambil resiko. Awalnya saya takut mau nonton konser ini. Pikiran sudah menuju ke bayangan kerusuhan para penonton, haduh. Namun ternyata... damai-damai saja. Saya suka.
    Tahun lalu ITS menyajikan persembahan konser Kahitna dan Raissa. Semuanya free entry. Tahun ini, Power Metallica. Super sekali. Semoga dengan ini masyarakat termasuk para penggemar musik rock seperti mas-mas gondrong yang joget-joget tadi bisa menerima ITS sebagai kampus yang sangat terbuka untuk semua kalangan.

    Ada cerita dibalik metallica
    Saya kenal dengan seseorang, dia adalah sosok yang pemurah, pemberi semangat, humoris, dan berwibawa. Dia teman dekat kakak sejak SMA. Dan dia dikenal sebagai vokalis band rock atau jenis musik metal. Rambutnya gondrong, badannya kekar.
    Awal mula dia bercerita masuk ke dunia musik rock saya sempat kaget. Saya kaget bukan karena jenis musiknya, tapi karena..
    "Mas bisa nyanyi?"
    Boleh saya bernostalgia sebentar?
    Pernah dulu waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dia datang ke rumah duduk di ruang tamu menemani saya sedang bermain. Kemudian dia berusaha ngelucu.
    "Kenalin, Nicholas Saputra" Dengan bangga dia memperkenalkan diri sebagai Nico.
    "Siapa itu Nicholas Saputra?" Saya bingung belum tahu siapa Nicholas Saputra.
    Semenjak kakak lulus SMA, dia tidak lagi main ke rumah. Sempat lost contact dengan keluarga saya.
    Beranjak duduk di SMA, saya mulai mengenal Blackberry Messenger (BBM). Entah dari mana dapat PIN saya, tiba-tiba dia mengirim pesan. Saya takjub, dia memberikanku semangat tiada habisnya. Dia tau saya suka membaca, dia tau saya suka menulis. Saya mengikuti setiap saran darinya. Termasuk motivasi agar saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ya, dia juga turut ikut andil dalam perjalanan saya menempuh pendidikan sampai saat ini.
    Menurut saya dia adalah seorang sastrawan. Dibalik penampilannya yang kata orang sangar, namun di lubuk hatinya masih bisa menjadi orang yang selalu menebar kebaikan.
    Kalau kamu pernah dengar saya bercerita tentang buku Tere Liye, saya mendapatkan 3 buku Tere Liye darinya. Dikirim langsung dari tempat tinggalnya nan jauh disana.
    3 buku itu adalah Ayahku (bukan) Pembohong, Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membeci Angin, dan Berjuta Rasanya.
    Ada yang menarik dari tumpukan buku-buku itu. Saat kubuka cover bukunya, terlihat bubuhan tanda tangan cukup besar ukurannya memenuhi satu halaman.
    Tanda tangan seorang Tere Liye.
    Baik, dia telah mengirimkan tiga buku bersamaan dengan bubuhan tanda tangan si penulis. Terimakasih banyak.

    Kabar
    Tidak ada kabar lagi.
    Bukunya tertata rapi di lemari.
    Sudah kubaca berulang kali.
    __________________________________________

    Setelah melihat konser hari ini saya seolah membayangkan jika Anda berada di atas panggung sana menyanyikan sebuah lagu. Betapa hebohnya Anda. Haha.
    Dimanapun Anda berada semoga sehat selalu. Mainlah ke rumah jika rindu. Kita masih sama seperti dulu. Akan selalu menerima meskipun Anda dan teman-teman Anda sekalian pernah hampir merebut remot tv ku.


    Salam,
    Piya

    Continue Reading

    Sebelum aku lupa pengalaman naik turun tentang KP tahun ini, segera aja nulis di waktu luang sebelum beneran KP. Aamiin.
    (Karena nulis waktu kejadian lebih dapet feel nya daripada nulis pasca tragedi)

    Apa itu KP?
    KP adalah kependekan dari Kerja Praktek (orang-orang luar ITS biasa nyebutnya PKL). Kalau di ITS rentang waktu KP antara 1-2 bulan. Beda sama magang yang punya rentang waktu 3-6 bulan. (bisa kondisional penyebutan sama waktu kegiatannya). Mahasiswa sini rata-rata melaksanakan KP di liburan semester genap menuju semester ganjil. KP bisa dimana aja, tergantung jurusanmu ngasih izin atau tidak melaksanakan KP di perusahaan yang mau kamu tuju. Ikutin aja prosedur yang amat melelahkan ini.

    Sosialisasi KP
    Biasanya pengajuan proposal KP minimal 2 bulan sebelum pelaksanaan, karena tau sendiri lah yang KP bukan cuma jurusanmu doang. Ngerasa telat banget sosialisasi kemaren menurutku. Februari masuk kuliah, Maret pertengahan kalau tidak salah baru diadakan sosialisasi KP. Belum bikin proposal, cari-cari kontak perusahaan, ngajuin proposal, belum lagi kalau ditolak perusahaan. Nyeselnya, kenapa gak dari dulu-dulu aja nanya tentang beginian ke kakak tingkat. Semester kemaren juga kebanyakan ngeluh tugas mata kuliah dan malah tidak memikirkan hal yang bersifat jangka panjang seperti... KP.

    Persyaratan KP
    Jurusan sebelah, syarat pengajuan KP dengan SKS tempuh minimal sekian SKS. Jurusan sini, syarat pengajuan KP dengan SKS lulus minimal 93 SKS, lulus semua mata kuliah semester 1 sampai semester 5 (Nilai sismik belum keluar, SKS lulus ku masih 90. Bergetar hatiku)
    Sebelumnya udah ada partner yang bakal KP denganku, tapi karena belum memenuhi syarat diatas alhasil saya dewean. Emang banyak surprise nya disini, bukan 93 SKS awalnya melainkan 90 SKS. Tiba-tiba saja berubah persyaratan tepat setelah demo salah satu mata kuliah jam setengah 4 sore di ruang A235. (Gilee bikin nyesek aja nih orang-orang ya)
    Masih terombang-ambing aku mau KP dimana, sama siapa. Saat itu udah bulan April. Niatku KP bulan Juni, Sob 😊 Akhirnya dipertemukan dengan dua orang cowok yang bakal jadi partner KP sebulan di... (dimana hayo?)

    Tiap Menit Lihat Email
    Ini part paling seru di jilid 1, nyari kontak perusahaan. Aku udah join sama dua orang teman KP, kita ngelist perusahaan mana yang kira-kira cocok buat tempat KP. Setelah mengirim email ke beberapa perusahaan, akhirnya ada email masuk dari HRD PT. PJB (senengnya gak karuan). Isinya mereka menerima mahasiswa yang akan melakukan KP, segera kirim proposal ke alamat ini dan seterusnya.
    Next, kita konsultasi ke dosen. Seakan dibutakan oleh tawaran, kita meninggalkan yang lain untuk mengajukan proposal ke Kudus.
    Dan cerita berawal dari sini...

    Manis di Awal Pahit di Akhir
    Pernah suatu hari aku menghubungi pihak Kudus untuk tanya-tanya mengenai KP. Ternyata mereka hanya menerima mahasiswa magang untuk rentang waktu 6 bulan. Skip dong, kuliah saya bagaimana. Lain hari, bapak dosen menawarkan ke situ juga bisa 1 bulan, kita tertarik. Bikin proposal, konsultasi, minta tanda tangan, ambil surat pengantar, lalu dikirimkan. Nunggu kira-kira hampir sebulan, ternyata kuota penuh. Siap!
    Posisi di dalam kereta perjalanan pulang ke Kediri. Cuaca panas, puasa pula, dapat pemberitahuan suruh bikin proposal untuk diajukan ke Jakarta. Mikir lagi, Jakarta? Apa kata mamak saya ya? Laptop yang sudah saya simpan rapi di bagasi atas akhirnya saya buka di tengah-tengah ramainya gerbong kereta.
    Proposal sudah selesai dibuat, minta tanda tangan, ambil surat pengantar, lalu dikirimkan. Sudah banyak orang yang kita ajak panik bareng-bareng untuk meminta konfirmasi tentang status pengajuan proposal di Jakarta. Tidak kurang dari sebulan, dari dua kelompok yang mengajukan hanya satu yang bisa KP disana, dan itu bukan kelompok kita. Paitnyaa

    Tentang Keluarga
    Tadi udah ketemu titik keresahan diatas, Mikir lagi, Jakarta? Apa kata mamak saya ya?
    Selepas beres-beres merapikan barang bawaan di kamar, laporan ke ibu kalau aku ngajuin KP di Jakarta. Raut wajah ibu berubah. Gaenak gitu lihatnya. Dengan segala negosiasi yang ada, akhirnya diperbolehkan berangkat jika diterima (Kayanya beraat gitu). Tapi udah kelihatan gak dapet restu berangkat ke Jakarta dari ibu. Grup udah panik, ribut sendiri, batin gak enak tidur tak nyenyak tapi makan masih lahap. Sempet nangis bombay juga, mikir kalau gak KP sekarang mau kapan lagi. Konsentrasi susah kebagi kalau harus KP semester depan.
    “PKL disini aja, Ya” ibu sudah berkata begitu artinya ibu sudah berdo’a supaya kita KP disini saja.
    Yang benar saja, pengajuan dari Jakarta ditolak 3 hari setelah ibu bilang begitu. Pagi hari sebelum kabar penolakan, aku udah feeling sepertinya dan pengen banget bikin proposal buat diajuin ke perusahaan lain. Jam 12 siang proposal kelar, ku kirimkan ke grup untuk diprint dan dimintakan tanda tangan. Surat pengantar sekaligus proposal ku ambil Hari Jum’at karena gak mau kelamaan kalau harus ngirim dari Surabaya ke Kediri lewat kurir. Hari Sabtu balik ke Kediri dan mengirimkan proposal itu untuk diajukan ke sebuah perusahaan disini.

    Sebulan digantung
    Belum kelar gelisahnya. Sebulan follow up lewat kakak, tiap jam 10 pagi dari Senin sampai Sabtu kirim WA
    “Gimana, Mas?”
    “Udah belum, Mas?”
    “Ada kelanjutan nggak?”.
    Sampai pas ada WA masuk ku kira dari Mas, ternyata dari si naruto. Yhaaa

    Belum ada balasan
    Panik dong kita udah mau mepet akhir bulan Juli tapi belum ada respon. Plan A Plan B Plan C disiapin, intinya udah pasrah tapi masih gamau nyerah. Alhasil tiada hari tanpa air mata.
    Mungkin temen-temen di grup udah muak dengan responku ketika mereka nanya “Rek ada kabar?” aku jawab “Belum”. Berat banget mau bales chat karena memang gak ada kabar sama sekali.
    Hari-hari pasrah, salah seorang teman menyarankan berangkat ke luar kota aja kalau memang gak ada kejelasan disini. Bukan luar kota sih, luar pulau lebih tepatnya. Lucunya, aku dan kakak sama-sama gak berani bilang ke ibu kalau kondisinya udah hopeless kaya gini. Kaya udah lelah kena marah. It feels like... “Yaudah marah aja buk, siap mendengarkan kok :’)”



    Finally
    Karena semalaman begadang karena ada kerjaan, akhirnya Hari Kamis pagi sehabis subuh tidur lagi (sebenernya gaboleh kaya gini). Kebangun jam setengah 8 pagi karena ada telepon masuk dari unknown phone number. Asli, awalnya ku kira penipuan. Angkat telepon, suara mbak mbak. Well, mbak mbak HRD ternyata. Mbak mbak HRD yang kunamai Unit 3 di WA (padahal gatau mbaknya unit berapa) ngasih tau kalau besok Hari Jum’at suruh dateng ke kantor buat interview. Gilaa super excited banget lah jelas!
    Keesokan harinya selepas waktu Jum’atan, aku dan temen-temen dateng ke kantor buat interview. Ternyata gak semua perusahaan ngadain interview buat nerima anak KP. Lumayan lah, sedikit pemanasan buat pasca campus.
    Selama interview beberapa pertanyaan terlontarkan. Banyak yang gak kejawab, kadang bisa jawab tapi salah-salah. Percayalah, di atas langit masih ada langit. Dalam hati, ikhtiar tawakal apapun hasilnya diterima dengan ikhlas.
    Alangkah sejuknya hari itu gaess... lihat sampah jadi seneng apalagi lihat interviewer bilang “Senin mulai KP”. Alhamdulillah. Dingin AC nya.

    Kemudian... kita diterima KP.

    Terimakasih, Kakak paling Oye ðŸ˜Š
    Terimakasih, Bapak 😊

    ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
    To be continued....

    Continue Reading

    Menembus Batas
    Oleh: Kafiyatul Fithri

    Tumpukkan berkas pendaftaran perguruan tinggi sudah tertata rapi di meja belajar. Kurang satu lagi yang teramat penting, Surat Penghasilan Orang Tua. Aku dan ayah bergegas meminta surat pengantar dari RT. Ayah muda berpostur tinggi menyambut kedatangan kami di rumahnya. Sembari menulis sesuatu di secarik kertas, beliau tersenyum setelah mendengar permohonanku mengenai surat pengantar itu.
                “Perempuan di rumah saja bantu ibumu. Sekolah jauh-jauh kalau ujungnya tetap 3M berarti buang-buang duit, nduk!” Istilah 3M memang cukup terkenal di kampung ini. Masak (Memasak), Macak (Berdandan), Manak (Beranak) begitulah kira-kira.
                Ayahku menanggapinya dengan santai. Sebagai seorang ayah yang tengah melihat putrinya tumbuh menjadi pribadi yang berpendidikan dan bermoral baik tentu kelak akan menjadi harta yang tak ternilai harganya.
                Ini secuil kisah yang membuat tekadku bulat untuk menjadi wanita sukses di masa mendatang. Banyak yang mengira aku berhenti melanjutkan pendidikan selepas SMA karena melihat teman-temanku sudah mempersiapkan acara pernikahannya masing-masing. Pengumuman calon mahasiswa baru cukup mengejutkanku, aku diterima pada pilihan pertamaku di sebuah perguruan tinggi dengan banyak kaum adam disana.
                “Bagaimana kehidupan anak teknik?” Salah seorang temanku, mahasiswi FKM bertanya kepadaku saat reunian pekan lalu.
                “Jarang mandi.” Jawabku sambil tertawa kecil.
     “Disana banyak cowok kan? Pernah ada yang disuka? Eh, kenalin satu dong ke aku.” Seperti itulah cuitan yang sering kudengar setiap bertemu dengan teman lama.
    Siapa yang tidak pernah jatuh cinta? Pernah menyatakannya?
     Tunggu, wanita bilang duluan? Benar. Pernah dengar kisah Khadijah dan Nabi Muhammad SAW, Khadijah lah yang pertama melamar Nabi Muhammad melalui sahabatnya. Kesetaraan hak seperti itu nyatanya sudah ada sejak zaman Nabi. Begitu indah bukan?
    Lebaran tahun ini tak banyak rumah yang ku sambangi, kebanyakan pergi ke rumah saudara yang letaknya lumayan jauh dari desa. Ketika suatu hari kedatangan tamu yang cukup dekat dengan keluargaku, mereka berniat menjodohkanku dengan pria yang sering mereka sebutkan dalam perbincangan.
    “S1, sungguh. Punya sawah juga. Cocok lah buat anak ketiga.” Promosi yang menurut mereka meyakinkan.
    “Nggak, jangan bilang jodoh. Tia bisa cari sendiri.” Aku bersikeras menolak.
    “Orang-orang memang begitu, nduk. Nggak usah terlalu dipikirin. Sekolah dulu, lalu kerja di tempat yang baik. Urusan pendamping hidup itu yang jalani kamu, ayah dan ibu mendoakanmu.” Ayah dan Ibu berusaha menenangkanku.
    “Aku boleh jadi Insinyur?” Tanyaku.
    “Bahkan kamu boleh kok punya perusahaan sekelas Pertamina.” Ibuku tersenyum.
    Pada kenyataannya, seorang pria mapan di luar sana akan mencari wanita yang cerdas. Siapa lagi bila bukan wanita dengan kepribadian yang baik dan senantiasa memantaskan diri sejak dini.
    Persamaan gender antara wanita dan pria saat ini sudah sangat umum kita lihat. Banyak wanita masa kini yang berkiprah di dunia yang cukup keras. Aku melihat sosok Ibu Susi Pudjiastuti, Ibu Khofifah Indar Parawansa, Mbak Najwa Shihab, dan masih banyak wanita cerdas di sekitar kita, mereka mampu mencapai kesuksesan seperti sekarang. Wanita mampu menjadi kuat seperti pria, tapi tidak akan mungkin menjadi lebih kuat dari pria. Seorang putri tidak cukup berdiam diri menunggu pangeran menjemputnya. Wanita yang berkualitas adalah mereka yang memiliki pendirian dalam dirinya.
    Tanyakan pada ayah, apakah seorang wanita pantas memiliki derajat sejajar pria. Tanyakan pada seorang pria, apakah dia mau memiliki istri yang membantunya mencari nafkah. Lalu katakan pada semua orang, wanita itu hebat.


    _________________________________________________________________________________


    Continue Reading
    Bola voli seberat 0,2 kg itu berhasil mendarat dan menghantam tepat di dahi seorang gadis bernomor punggung dua belas. Dia melirik ke arahku, spontan aku cekikikan melihatnya kesakitan. Aku menghampiri dan melihat wajahnya yang dekil dan kusam dipenuhi debu tipis yang menempel di pipinya.
    “Masih sakit?” tanganku mengetuk dahinya dan bisa dipastikan bagian tubuh paling jenong itu akan terasa lebih sakit. Aku merasakannya.
    “Makanya kalau ada umpan itu diladenin, bukannya malah bengong.” Aku masih pada posisi menatap wajah polosnya.
    “Sialan! Bisa tidak sehari aja gak jahat sama Mira?” Katanya sambil menggerutu. Dia mulai tersenyum saat tanganku beralih mengusap rambutnya.
    Dia adalah Almira, putri semata wayang teman ibuku yang dirawat oleh orangtuaku sejak usianya enam tahun. Karena seumuran, aku dan Almira bersekolah di tempat yang sama walaupun beda kelas. Siapa sangka banyak yang mengira aku dan Almira berpacaran. Berangkat dan pulang sekolah bersama, bermain voli setiap Sabtu pagi, dan membawa bekal yang sama setiap hari. Meskipun aku dan Almira memliki banyak persamaan dan sering berdamai, tapi tak jarang ada pertengkaran di antara kami. Almira memang terlihat masih seperti anak kecil, maka dari itu ayah dan ibuku mewajibkanku untuk menjaga dan melindungi Almira saat di sekolah. Alhasil dia menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
    “Aku mogok latihan kalau hujan turun. Tolong bilang ke teman-temanmu untuk jangan memaksaku bermain voli!” Bentak Almira kepadaku setelah beberapa kejadian sebelumnya aku dan teman-teman tetap memaksanya untuk ikut latihan. Sejauh yang aku tahu, Almira paling tidak suka ketika hujan turun dan dia masih berkeliaran di luar rumah. Entah dia memiliki penyakit Aquagenic pruritus atau sejenis alergi terhadap air, ayah dan ibu tak pernah sekalipun bercerita kepadaku.
    Aku tetap melanjutkan latihan meskipun cuaca hari ini tampak mendung. Almira mulai menampakkan kegelisahannya. Dia tak lagi fokus dengan bola di hadapannya. Berulang kali aku berteriak agar tetap fokus, apa daya himbauan dariku tak bisa melawan rasa takutnya pada air hujan.
    “Kamu kenapa sih?” Aku memegang lengannya erat.
    “Ayo berteduh, jangan hujan-hujan” Jawabnya.
    Aku mengarahkan badanku tegap di hadapannya. Mataku menatap lurus ke bola mata Almira. “Dengarkan aku, tolong untuk kali ini saja kita latihan meskipun hujan datang. Besok lusa ada pertandingan” Aku masih memegang kedua lengannya.
    Almira berusaha melepaskan lengannya dari genggamanku. “Kamu dan teman-temanmu saja yang latihan. Aku tidak mau tersentuh air hujan. Dengar itu, Farel?” Balas Almira dengan sedikit membentak.
    Langit perlahan mulai petang. Aku dan Almira masih bertahan dengan argumen masing-masing.
    “Alergi? Kamu gatal-gatal? Kulitmu mengelupas? Hei Mira, Kamu tak pernah bercerita apapun tentang ini. Apakah kamu tidak ingin ada pertandingan? Atau kamu tak pernah punya impian untuk membanggakan ayah dan ibumu?” Aku sedikit emosi karena ku pikir Almira terlalu egois.
    “Jangan pernah sebut orangtuaku! Aku tidak pernah mengajakmu bertengkar seserius ini. Tapi kali ini aku benar-benar benci padamu!” Almira menitikkan air matanya. Hujan mulai turun, Almira pun berlari menuju kelas dan aku masih terdiam membisu di tengah lapangan.
    Dan sore itu, hujan deras membasahi gedung sekolah kami. Sekolah sepi, hanya tinggal aku dan Almira berada di salah satu kelas yang tak jauh dari lapangan. Aku menarik kursi ke dekat Almira yang duduk termenung di pojokan.
    “Maafkan aku, Mir.” Tanganku gemetar menyentuh tangannya. Perlahan dia mulai mau melihatku dibalik jaket birunya.
    “Sudahlah lupakan. Aku juga minta maaf karena terlalu egois.” Dia menjabat tanganku dan menampakkan senyumnya.
    Aku menghela napas panjang “Sebenarnya apa yang kamu takutkan? Toh aku selalu melindungimu kalau terjadi sesuatu. Yah gak harus diceritakan kalau memang itu terlalu privasi buatmu.”
    Suara petir yang menggelegar tak membuatnya lantas kaget dan berteriak. Dia hanya menutup mata dan diam sejenak. Almira meneteskan air mata. “Hujan deras sepuluh tahun yang lalu benar-benar kejam. Dia yang mengantarkan ayah dan ibuku ke pusara. Ketika itu aku sedang berlibur ke luar kota menyusuri hari yang panjang hingga aku tertidur pulas. Hari itu hujan turun sangat deras dan membuat jalan yang kami lewati semakin licin. Entah apa penyebabnya tiba-tiba ayah hilang kendali dan mobil kami terperosok ke jurang. Mengapa aku tidak ditakdirkan untuk mati saja saat itu jika aku terbangun hanya untuk melihat ayah dan ibuku meregang nyawa disana. Tidak ada yang tau keberadaan kami. Hujan dan petir itu seolah menjadi penghalang ayah dan ibuku untuk selamat. Aku pun pingsan dan terbangun di sebuah rumah. Aku melihatmu, tante, dan oom, tapi tidak dengan kedua orang tuaku. Semuanya sudah berakhir”
    Aku begitu terpukul mendengar kisahnya. Tanganku meraih lengan Almira dan memeluknya. “Jangan bersedih lagi, ada Farel disini. Kamu harus tau, tidak semua rintik hujan itu kejam. Kejadian yang menimpamu itu rencana Tuhan.” Perlahan aku mengusap air mata di pipinya.
    “Ayo ikut aku.” Aku menggandengnya keluar kelas.
    Hujan tak sederas tadi. Aku menatap Almira yang masih ketakutan dengan hujan. “Tidak ada yang perlu ditakuti. Hujan tak lebih menyeramkan dari bola voli yang terus mengejarmu hingga mengenai dahi. Kamu seorang pemberani, bahkan lebih berani dariku saat berkelahi dengan Tatiana si tukang genit. Ulurkan tanganmu dan biarkan hujan menyentuhnya.”
    “Tidak!” Almira menolak dengan keras.
    Aku mengulurkan tanganku ke tetesan air hujan. “Lihat! Ini dingin dan menyenangkan.” Aku tersenyum dan kembali menarik tangannya.
    Tangannya bergemetar, dia bersembunyi di belakangku. Dan akhirnya satu per satu tetes air hujan mengenai telapak tangannya. Tangan kirinya menggenggam bajuku dengan erat. Sudah puluhan kali air hujan menetes, dia mengintip dan mulai tenang.
    “Dingin.” Dia membolak-balikan tangannya.
    Aku berjalan menuju lapangan. Tubuhku basah. “Almira, kalau berani ayo kesini! Kalau tidak, aku akan menganggapmu lebih genit dari Tatiana!” Aku berteriak dari lapangan.
    Almira terlihat geram. Dia melepas sepatunya dan berlari ke lapangan. Dia menutup matanya, mungkin sedang merasakan dinginnya hujan. Dia memelukku dan mengucapkan terimakasih.
    “Kamu sudah pernah jatuh cinta?” Pertanyaan Almira membuatku gugup.
    Aku menaikkan bahuku. “Kamu jatuh cinta?”
    “Iya, aku mulai jatuh cinta.” Dia menyipitkan matanya.
    “Kepada siapa?”
    Almira mengumpulkan air hujan di tanggannya. “Kepada orang yang sudah memaksaku untuk berkenalan dengan air hujan.” Kumpulan tetes air hujan itu berhasil dilemparkan ke wajahku. Dia berlari ke tengah lapangan. Sungguh bahagia melihatnya tersenyum lepas seperti sedia kala.
    Bagiku, hujan menyimpan cerita di setiap tetesnya. Hujan bisa memberimu cinta dan petaka. Hujan kala itu memang kejam, tapi tidak sekejam diriku yang telah mencuri hati Almira hingga membuatnya jatuh cinta.

    -Selesai-
    __________________________________
    Alhamdulillah lolos jadi kontributor lomba cerpen tentang hujan by WA Publisher 2016. Cihuy 😄
    Meskipun belum diberi anugerah menempati 1st place, semoga bisa nambah pengalaman nulis cerita aduhai nan menggemaskan 😳

    Happy reading
    See ya, fellas 😚
    Continue Reading
    1 Juli 2016, first time kita ngadain reunian bareng angkatan SMA setelah sebelumnya udah ngadain Campus Expo yang bisa dibilang cukup sukses dan waaaaw. 
    Bertempat di Treepot Cafe deket rumah lah, mayaan jam set 10 udah balik.
    Sedikit cerita aja---
    Awalnya cuma iseng ngepost foto buat giveaway H*lo teen, intinya sih suruh upload foto tentang apapun yang jarang dilakukan orang". Akhirnya kepikiran tentang reunian gitu plus captionnya "Ayo Reunian"
    Nah kebaca tuh sama anak" yang peka sama angkatan, hmm.
    Tiba-tiba saja ayif dapet message dari dua orang teman yang isinya tentang ajakan bikin kumpul angkatan. Karena masih nuansa ramadhan alhasil bikin acara bukber angkatan.
    Panitia dibentuk dengan melibatkan koordinator kelas. Kita cari peserta tuh, seenggaknya ada 20 anak per kelas lah. Realitanya, hmm banyak yang susah diajak kumpul ternyata. Iya saya tau kita punya kesibukan masing-masing ya. 
    Awalnya kita ambil tempat di Papringan (tambah deket lagi sama rumah). Tempatnya outdoor yaa
    Setelah semua konsep hampir matang, tiba" seseorang berpendapat, kalo semisal hujan gimana?
    Ini yang dinamakan "disaster" lewat ucapan. Heu. Pindah lokasi, fix.
    Melalui kompromi para cowok" (ihiw) akhirnya dapet deh tempat makan Treepot Cafe. Negosiasi sana sini, untung saja tempatnya jadi. Kalau enggak, mau dikemanain acara ini.
    Pra acara kita nyiapin segala keperluan mulai balon, doorprize, band, sound, piring, semangka, kurma, dsb. Sejam sebelum acara tiba" hujan. Iya hujan mayan deres.
    Tapi temen-temen tetep dateng kok. Makasih ya
    Acara berlangsung meriah dong, iya lah siapa dulu MC nya mas wawan dan mbak icha ryanica jagoan smapa. Pengisi acaranya asique pol, papermint band (ig:papermint_official).
    Ini bukan sekedar reuni kawan, tapi reuni mantan. Banyak juga ya yang cinlok ternyata.
    Kelihatannya aye juga lagi ngamatin someone nih *eh. (mbujuk i rek) ✌
    Acara berakhir jam setengah delapan dan ditutup dengan sesi foto bersama.
    Atas nama panitia, Fiya mengucapkan terimakasih ya kalian udah nyempetin hadir. Maaf lo kalau semisal makanannya itu" aja, sarana dan prasarana yang disediakan panitia juga kurang. Kita mah apa atuh. Maaf juga kalo semisal biayanya segitu tapi dapetnya kok gitu. (ada yang ngomong gitu). Bersyukurlah masih ada orang-orang yang mau ngurusin hal semacam ini .
    Thanks to Agil, Wawan, Sasmita, Ahong, Riza, Dhila, Dedi, Dias, Deda, Raka, Pendik dan Facur selaku temen-temen yang selalu update dan mengucap syukur ada tambahan peserta. Lubab, Icha, Karin, Imel, dan Dora selaku temen-temen yang ngasih ide" kreatifnya buat kesuksesan acara ini.
    Terimakasih Pak Karim dan Mr. Jawari udah nyempetin waktunya untuk hadir di acara kami.
    Terimakasih Bu Erni yang udah nyiapin pisang goreng dan tempe goreng. (enak bu) 
    Semoga acara kumpul IKASMAPA'15 masih tetap berlanjut sampai tua ntar.
    IKASMAPA'15, gak ada matinya 
    Continue Reading
    Ramadhan telah tiba. Saatnya berbagi suka cita, canda dan tawa terhadap sesama. Gak lengkap dong rasanya kalau nggak ngadain buka bersama bareng teman sebaya apalagi dengan kawan lama dan gebetan lama *eh ngaco.
    Tuh title nya kok gitu ya, udah wacana pake problematika pula. Emang lagi musimnya gitu ya ngrencanain buka bersama ini itu alhasil hanya "Watjana".
    "bukber yuk"
    "ayuk, kapan, dimana?"
    "aku sih oke-oke aja, yang lain gimana"
    Gitu terus aja sampe lebaran tahun depan.
    Boro-boro nentuin tanggal sama tempat, ngumpulin masa aja syusaahnya minta ampun ya bosq.
    Ada lagi problem bukber yang cuma memberatkan satu pihak. Duh kasihan ya nentuin tanggal, tempat, booking makanan sendiri, yang paling parah harus nalangin duit DP sendirian. Untung" yang ikut ntar banyak, nah kalo cuman dikit ya wassalam. *Ya Allah curhat ta neng
    Alhamdulillah Fiya nggak sampe gitu kok.
    OK next 
    Problem berikutnya waktu satu angkatan udah ngadain bukber dan ada wacana bikin bukber kelas. Dilema pun terjadi. Ada yang ikut bukber angkatan tapi gak ikut bukber kelas, ada yang gak ikut bukber angkatan tapi preferred ke bukber kelas. Jangan sampe malah lost contact dan gaikut keduanya tanpa alasan yang jelas. *idih maunya apasih
    Ini pernah nih kejadian bukber alumni gitu ceritanya. Tapi ya ngerasa sendirian aja disitu, ngeliatin tingkah polah temen-temen yang masih ngumpul sama gengs nya sendiri-sendiri. Pikir ane kenapa mereka nggak bikin bukber komplotan mereka sendiri aja ya daripada ngajak yang lain dan pada akhirnya harus dibiarin mengering mentah-mentah. *duh ganas
    Pada intinya kumpul-kumpul semacam buka bersama kaya gini tuh enak bosq. Sebagai sarana reunian juga kan. Tapi jangan memberatkan salah satu pihak juga. Namanya angkatan juga harus solid kan yaa. *nggak mau solid yaudah jadi liquid aja sono
    Semoga Ramadhan tahun ini berkah dan tidak ada pertentangan dan permusuhan di antara kita.
    Marhaban Yaa Ramadhan 
    Continue Reading
    JANGAN KOLOT, INI INDONESIA
    OLEH: KAFIYATUL FITHRI
    Apa yang sedang aku rasakan sekarang? Miris. Benar apa kata orang tua jaman dahulu semakin tua dunia ini semakin terkikis pula moral manusia masa kini. Namaku Azizah, aku bukan seorang aktivis yang gemar berkoar-koar di depan rektorat, bukan pula anak muda yang berambisi menjadi pejabat publik materialistis. Aku seorang mahasiswi yang saat ini hanya bisa mengelus dada melihat tingkah laku anak SMA yang kekinian di masanya. Berulang kali explore di Instagram memperlihatkan kaki mulus para calon alumnus SMA. Iya kupikir calon karena mereka belum tentu bisa mendengar kata “Selamat Anda lulus” dari kepala sekolah. Usai menghelat hari terakhir Ujian Nasional, tak luput dari genggaman mereka sebuah pilox dan boardmarker warna-warni. Untuk apa lagi kalau bukan menggelar aksi corat-coret di lapangan tengah kota, balapan seenakudelnya, dan hal yang mungkin sedang hangat diperbincangkan adalah aksi foto para punggawa SMA menggunakan pakaian seragam serba mini dengan balutan rok panjang yang disobek jahitannya hingga atas lutut. Gincu sana-sini, peringatan non-muhrim pun tak dapat dihindari, duh! Alangkah lucunya negeri ini.
    Ratusan bahkan ribuan likers Instagram menjadi incaran para siswa ‘hitz’ atau sekedar numpang ‘hitz’. Tak luput hujatan dari para commenters mengenai fenomena ini. Followers mulai menampakkan perubahannya yang mulanya hanya ratusan kini melonjak dengan imbuhan huruf K dibelakangnya.
    Moral anak bangsa memang tak ada habisnya menghiasi berita. Lalu siapa yang patut disalahkan?
    “Loh bukannya sekolah mengajarkan anak didiknya untuk bertingkah laku yang baik?” pemikiran yang logis tapi belum tentu kritis.
    Masa remaja adalah saat dimana seorang anak mencari jati dirinya. Bertingkah sesuai keingininannya dan menutupi semua gengsinya. Tapi bukan berarti seorang remaja bisa bebas melakukan itu semua, kodratnya seorang pemuda adalah menjadi generasi penerus dan pelurus bangsa. Menjunjung nama baik keluarga dan dirinya. Namun pada kenyataannya hanya segelintir dari mereka yang mampu menunjukkan prestasi gemilangnya. Sisanya? Lihat sendiri tingkah laku mereka, cium ketek pacar, foto di perempatan lampu merah, skandal pra kelulusan coret baju mini tiada henti, dugem pasca Ujian Nasional, dan hal lain yang tidak bisa kutebak sebelumnya. Sistem pendidikan di Indonesia kurasa sudah cukup baik walau ada ketidakpemerataan sistem di semua sekolah. Pendidikan moral yang ditanamkan di Indonesia sudah dibentuk sejak mereka masih duduk di bangku TK. Kembali berkaca pada diri masing-masing, sudah benarkah pendidikan di negeri kita. Haruskah ada problematika yang akan terus menerpa?. Moral anak muda bangsa kita memang perlu dilakukan rehabilitasi.
    “Jah, lu ngomong rehabilitasi kaya pemakai aja”. Gelitik Marcia, teman kuliahku yang rupanya miris juga dengan situasi pendidikan di Indonesia. Dia memandang bahwa sistem yang dijalankan pemerintah mengenai proses pendidikan di Indonesia belum baik.
    “Mbak Jah aku nggak lolos SNMPTN, terus yaapa?” tamparan keras bagi mereka yang gagal lolos seleksi SNMPTN tahun ini. Bertebaran ucapan ‘selamat’,’sabar’, dan ‘masih ada jalan lain kok’ diiringi emoji smile di media social manapun. Next trip isSBMPTN, ujian tulis masuk perguruan tinggi negeri yang biasanya atau malah pada umumnya barengan dengan jadwal daftar ulang mahasiswa baru jalur SNMPTN. Dan lagi, bertebaran screencapture formulir SBMPTN di media sosial yang rata-rata menggunakan caption ‘doakan semoga lancar’. Amin.
    Kembali ke masa dimana H-100 menjelang Ujian Nasional. Para siswa yang awalnya ogah-ogahan masuk masjid untuk berjamaah, lihat saja masjid sekolah penuh dengan seragam ber-badge XII. Promo bimbingan belajar juga mulai menarik massa dari berbagai wilayah. Pesan broadcast berisi ucapan minta maaf juga tak luput dari perhatianku. Puluhan pesan broadcast masuk di chat BBM. Bahkan ada beberapa teman yang mulai muak dengan kebiasaan itu hingga menuliskan personal message ‘bc-an tok’yang berarti bc(broadcast) mulu, dan ‘iya udah dimaafin kok’.
    Sekali lagi, duh! Alangkah lucunya negeri ini.
                Dimana ada Ujian Nasional disitu ada kunci jawaban. Sudah tidak asing lagi bukan dengan aktivitas kriminal seperti ini. Benar-benar merusak moral dan mental anak bangsa. Bagaimana tidak? Mereka yang bertugas menjadi bandar kunci jawaban di sekolahnya dituntut harus pintar menyelundupkan barang. Siswa yang membeli dan memakai kunci jawaban juga terkena dampaknya. Aku yang bersikeras menolak tawaran itu tetap saja mendapatkan bujuk rayu dari para bandar.
                “Lumayan lho satu sekolah dibanderol tiga puluh juta, kalo dapet klien banyak bisa murah bayarnya” Kata seorang teman yang tiba-tiba berbisik di telingaku.
                “Iya kalau kuncimu valid, kalau tidak? Good luck guys!” Kalimat yang sempat terlontar saat aku melihat hampir seluruh teman sekelasku memakai kunci jawaban. Banyak yang mengira aku iri melihat mereka. Nilai kejujuranmu berawal dari sini. Percayalah suatu saat nanti ketika hasil itu keluar atas usahamu sendiri, jelek atau baik hasilnya itu adalah kerja kerasmu dan kau akan bangga mendapatkannya.
    ***
                Halo dunia perkuliahan, dunia yang penuh dengan birokrasi dan opini, kritik yang cukup cerdik, dan angkatan yang tentu membanggakan.
    Halo dunia perkuliahan, perangmu dimulai dari sekarang!
                Berbicara kuliah tentu tak lepas dari yang namanya OSPEK. Isu-isu lucu nan menggelitik pun tersiar dan sampai di telingaku.
    “OSPEK kampus A tiap Sabtu Minggu, mampus dah nggak malmingan” pendapat satu.
    “OSPEK kampus B tiga hari doing tuh” pendapat dua
    “Di kampus C OSPEK nya setahun. Kebayang gak sih dua semester dibentakin terus” pendapat terakhir.
    Haruskah proses pengenalan kampus dengan cara mengintimidasi mahasiswa baru? Mungkin itu hanya pandangan mereka yang melihat OSPEK yang terjadi di kampus yang menghalalkan cara itu. Sisi baik dari sistem ini ada beberapa atau mungkin sudah banyak aturan mengenai pelarangan OSPEK menggunakan cara fisik. Ini tentu mengurangi dampak buruk yang terjadi dalam proses pengenalan kampus ini. Seperti yang sudah diketahui OSPEK telah menimbulkan korban akibat caranya yang salah. Berkaca dari sistem OSPEK atau pengenalan kampus di Australia, mereka melakukan hal semacam ini melalui seminar dan workshop di kampus mereka. Dengan cara praktis mereka melakukan hal itu dan tentunya hasilnya pun lebih baik dari sekedar main fisik yang marak terjadi di Indonesia.
    Mungkin nilai akademik tidak akan cukup untuk membentuk kepribadian yang baik dan sesuai dengan harapan bangsa. Hidup tidak monoton mempersoalkan teori dan angka. Buat hidup lebih dinamis terasa lebih menyenangkan ketimbang berdiam diri dan rumus dan persoalan yang tak akan mati ditelan dinasti. Senang bukan berarti mewah, tapi senang akan terbawa dalam jiwa bila semua orang sadar akan pentingnya pendidikan moral.
                Jangan kolot, ini Indonesia. Negeri yang perlu dibenahi dan dijaga. Bila pendidikan moral yang dibentuk belum sepenuhnya masuk ke dalam jiwa para pelajar, sudah saatnya kita meluruskan apa yang salah dan meneruskan yang benar.
                Ini secuil kisah. Kisah tentang dunia pendidikan Indonesia yang akan menjadi evaluasi dan introspeksi diri.

    http://pgmistaiwar.blogspot.co.id/2016/06/asli-pengumuman-lomba-puisi-dan-cerpen_11.html

    Continue Reading

    Fisika itu sulit, tapi ya gak sulit-sulit amat”. Peribahasa dari mana itu? dasar kalau Pak Raden, guru Fisika di sekolahku sudah kebanyakan pikiran tentang kinematika gerak, dimensi, osilasi, dan lain sebagainya, kata-katanya pasti nglantur kemana-mana. Maklumlah usia Pak Raden sudah kepala lima. Kami menahan tawa karena takut dihukum karena ramai. Aku tak sengaja melihat Erga tersenyum kecil. Manis sekali pikirku. Andai diriku bisa melihat senyum Erga setiap hari. Ah... mungkin cuma mimpi, toh suatu saat Erga masuk ke kelas A1 bersama Tania karena mereka terkenal pintar. Sedangkan Aku bisa berharap masuk di kelas A2 bersama Elsa. Sadar diri, Aku ini masih berada di bawah level otak Erga dan Tania.
    Lirikannya membuat jantungku berdegup kencang. Dug... dug... dug... senyumnya merangsang listrik ke jantungku semakin lama semakin tak terarah dan ku rasa semua orang mendengar jeritan hatiku. Aku meremas tangan Elsa, teman sebangkuku yang sejak tadi masih membenahi dandanannya yang ‘sedikit’ amburadul.
                “Sakit...! Bentar, gue mau ngaca dulu... malu kan kalau ketemu cowok-cowok keren penampilan gue masih kayak orang-orangan sawah!”. Kata Elsa.
                Aku sama sekali tak menggubris omongan Elsa dan tetap fokus mengawasi setiap gerak-gerik Erga. Benar-benar menawan, pujiku. Tak sengaja Aku melihat Erga tersenyum kecil padaku. Hari itu benar-benar dipenuhi cinta yang sudah tak terbendung lagi rasanya.
                “Tanggal berapa hari ini, Sa?”. Tanyaku.
                “Hari ini? Kemarin? atau lusa?”. Elsa balik bertanya.
                Aku mengusap kepala. “Tuh cermin ditaruh dulu biar loading sama jalan ceritanya. Hari ini tanggal berapa ya?”.
                “Oh, iya-iya... Hari ini tanggal 8!”. Jawab Elsa yang masih memegang cerminnya.
    Emm...Mugkin gak ya kalau Erga beneran naksir Tania? Mereka sama-sama pinternya, kayak udah cocok banget jadi pasangan. First Plan, delapan Desember ini pengen gue jadiin hari paling bahagia dalam hidup gue.. Udah dapet senyumnya Erga, pengen kejutan lagi nih... Batinku.
    Tania adalah cewek kecil yang suka godain Erga saat dia sedang belajar serius. Dari situ lah Erga dan Tania begitu akrab, dan dari situ lah yang membuat Aku semakin ingin mengejar Erga. Suatu saat gue bakalan jadi penerus Einstein, bikin rumus tertentu buat menaklukan hatinya Erga. OPTIMIS!!!. Aku tersenyum lebar, tapi aku tak benar-benar yakin bisa membuat rumus seperti itu apalagi urusan hati, cinta, perasaan, dan logika. ARRGGH ribetnya.
    Bagai terbius, mulut tertutup lakban, badan pun terasa kaku saat Erga datang menghampiri mejaku. Bocah tampan itu sudah berdiri di depanku dan tersenyum kepadaku. Pikiran aneh-aneh mulai bermunculan. “Aku mencintaimu”. Kata yang paling ku tunggu tak kunjung keluar dari mulut manisnya. Namun bukannya niat menembakku, Erga justru meletakkan laptopnya di mejaku.
    “Nitip nge-Charge laptop ya!”. Kata Erga dengan santainya.
    GUBRAK!! Wajar bila wajahku seketika memerah bak kepiting rebus. Oh My God... Apa yang ku lakukan? Memasang tampang memerah dan salah tingkah. Benar-benar bukan tindakan yang patut dilakukan pada saat-saat seperti ini.
    !!!
                Nasi udah, sayur asem udah, lauk juga udah, terus kok masih ada yang kurang ya?. Mmm... Oh iya, sendok. Tapi masih ada yang kurang lagi, narsis dulu baru komplit.
                Aku mengambil handphone yang masih nangkring di dalam tasku. Aksi narsisku pun dimulai. Di tengah-tengah perjalananku menyantap hidangan buatan ibu, satu SMS masuk di handphone-ku.
                “Dari Erga.” Kataku polos. “Hah!!! Erga... WHAA!!! Ada angin apa nih? Idih.. mungkin cuma pertanyaan formal!”. Mulai berputus asa.
                Dengan sigap Aku membuka SMS dari Erga yang sempat membuatku hampir pingsan.
                From : Erga Dharmadika
                       Eh, besok PR nya apa aja??  -Erga-
                “Tuh kan bener apa kata gue pasti nanya PR, bosen deh gue!”. Gumamku.
                To : Erga Dharmadika
                       Fisika BKS hal.42 yg pilGan aja, jgn lupa dkasih prosesnya.
              From : Erga Dharmadika
                       Makasih ya :D
              Yah... Cuma bilang makasih?? Kasih kata apa gitu biar keren dikit. Misalnya ‘Nonton yuk!’ atau ‘Kapan-kapan jalan bareng ya!” atau begini lebih keren ‘Aku mencintaimu’. Eh, eh.. mana mungkin si Erga bilang kayak gitu ke gue. Lagi mimpi ya, Ta?? Bangun dong, Martha!
                To : Erga Dharmadika
                       Cuma bilang makasih?? Nanggung bgt sih.. :o
              From : Erga Dharmadika
                       Lha mintamu gmana? :D
              Duh...bego banget gue!
                To : Erga Dharmadika
                       Mmm.. gak jadi ga. Cuma bercanda :D
                       Pasti kamu lagi SMS an sama orang yg kamu suka, ya kan?
              From : Erga Dharmadika
                       Kepo.. :p
                       Emangnya sp yg kusuka? Kamu tau? Enggak kan.
    .         To : Erga Dharmadika
                       Tania lah.. Masak aku? Ya gk mngkin dong.. :)
              From : Erga Dharmadika
                       Ha? Tania, bukan dia. Kalo kamu, mungkin iya :D
              O-M-G.. Bukan Tania tapi bisa jadi Aku yang Erga sukai. AAAA.. benar-benar luar biasa. Jantungku seperti diledaki ratusan kembang api. Aksi SMS ku dengan Erga terus berlanjut sampai Aku menghabiskan makananku. Dan akan diteruskan lagi malam ini.
    !!!
                Erga mana ya kok gak SMS lagi? Apa Aku harus mulai duluan, aish.. jaim dong!. Rasa gelisah itu pun terus menyelimuti perasaanku. Aku baru menyadari bahwa Aku menyukainya. Tapi apalah daya jika memang Aku tak kan bisa menjadi pemenang di hatinya. Banyak wanita yang menyukainya, Erga bagaikan malaikat bagi peri-peri di sekitarnya.
    Menjaga image, satu hal yang sangat penting bagi setiap insan yang sedang dilanda asmara. Tapi hal inilah yang menurutku menjadi sebuah kekurangan dimana seseorang yang menjaga image-nya justru malah tak menjadi perhatian si do’i. “Oissh.. Bahasa gue tinggi banget ya?”.
    Dengan langkah pasti menuju impian dan tujuan yang lebih baik, Aku memberanikan diri mengawali SMS ku dengan Erga. Aku berharap semoga SMS ku berhasil masuk, dan dibalas dengan baik dan benar.
    To : Erga Dharmadika
              Mmm.. lagi sibuk ya ga?
    “Aku berharap semoga SMS ku berhasil masuk, dan dibalas dengan baik dan benar”. Pintaku. “OK, kirim!!”.
    Selang beberapa menit kemudian Erga membalas SMS. Dan inilah cuplikan SMS ku dengannnya.
    From : Erga Dharmadika
              Nggak tha... kamu sendiri gmana?
    To : Erga Dharmadika
              Gk gmana2. Kmu gak SMS an sama Tania?
    From : Erga Dharmadika
    Aku itu gak ada apa2 sama dia... kok kamu gk ngerti2 sih apa maksudku..
              To : Erga Dharmadika
                       Apa sih ga?? Aku emang beneran gk tau
              From : Erga Dharmadika
                       Harus sekarang ya?
                Apaan ini? Erga semakin membuatku bingung dengan balasan SMS nya. Apanya yang sekarang? Aku gak mengerti apapun tentang dia dan Tania. Jangan-jangan dia mau bilang kalau dia gak suka sama Tania atau malah sebaliknya.
                To : Erga Dharmadika
                       Skrng aja gpp kok, mungkin aku jg gak ada sangkutannya
              Satu menit, lima menit, sepuluh menit berlalu dia tak kunjung membalas SMS ku. Aku resah apa sebenarnya yang ingin dikatakannya. Dan di menit ke tiga belas dia baru membalas SMS ku.
                From : Erga Dharmadika
                       Aku suka sama kamu. Aku mencintaimu :)
                Tanganku bergetar membaca SMS darinya. Mulutku terdiam, mataku terpana pada tulisan itu dan seolah-olah Aku sedang melayang tinggi di angkasa. AAAA.. ini memang luar biasa. Jantungku tak lagi diledaki ratusan kembang api, tapi milyaran kembang api dan dijatuhi bunga-bunga yang bermekaran.
                “Aku pemenangnya. Dia mengatakannya!”. Kata batinku.
                Tak ingin membuang kesempatan yang ada Aku segera membalas SMS nya.
                To : Erga Dharmadika
                       Aku juga menyukaimu... :)
              Last Planning Today, delapan Desember ini udah gue jadiin hari paling bahagia dalam hidup gue.. Udah dapet senyumnya Erga, SMS an full dengan Erga, dan yang terakhir... ditembak Erga. Batinku.
    !!!
                “HAYOO... nglamun apaan?”. Suara Elsa mengagetkanku disaat Aku sedang bernostalgia mengenang masa-masa pertama kali Erga menembakku.
                “Sialan Lo..! Untung gak serangan jantung!”. Kataku.
                Elsa terpingkal-pingkal melihatku begitu kikuk dibuatnya. “Haha.. muka Lo lucu banget! Gimana hubunganmu dengan Erga? Masih baikan dong”. Tanya Elsa.
                Aku terdiam tak mampu mengatakan yang sebenarnya terjadi denganku dan Erga. Perlahan air mataku mulai menetes.
                “Hei, kok nangis? Pasti ada sesuatu nih. Cerita dong Tha!”. Pinta Elsa.
                “Erga cemburu waktu gue deket sama Reno. Eh maksudnya bukan deket dalam arti begituan, tapi Cuma sekedar rekan satu kelompok aja kok. Menurutku itu biasa, lagian si Erga sendiri aja yang sensitifnya kebangetan! Tadi pagi dia mau mutus gue.”. Kataku kesal.
                “Itu kan hal wajar kalau Erga emang sayang sama Lo. Itu bukti kalau dia masih perhatian. Coba kalau gak diperhatian, pasti dia gak bakalan marah waktu kamu deket sama cowok lain”. Terang Elsa sambil menyeruput minuman soda nya. “Udah ya nangisnya, masak kamu nangis cuma gara-gara cowok sih. Lagian kita kan udah mau kuliah, fokus dulu jadi mahasiswi”. Lanjutnya.
                Aku mengusap air mata yang sudah membasahi pipiku. “Nah itu dia, gue mau ke Bandung. Gue mau kuliah di sana!”. Kataku.
                “Kapan? Udah ngomong ke Erga belum?”. Tanya Elsa.
                “Besok pagi gue berangkat. Belum ngomong sama dia, rencananya hari ini gue mau ngomong ke dia. Semoga ngambeknya udah reda!”. Kataku sambil tersenyum kecil.
                “Yah, bakalan kangen banget gue sama Martha!”. Ucap Elsa sambil memelukku. “Hati-hati ya besok! Jaga kesehatan di sana!”.
                “Pasti. Makasih banyak ya, Sa!”. Aku tersenyum bahagia memiliki sahabat yang care banget. Be Happy, Martha! :)
    !!!
                Entah mengapa pagi ini Aku sama sekali tak bersemangat untuk berangkat menuju Kota Kembang. Setelah kejadian yang menimpaku kemarin mataku menjadi sembab. Aku meraih tas yang berat isinya mencapai lima ton (haha.. Cuma bercanda). Hei.. lihat saja isinya, buku, baju, perkakas rumah tangga, semua masuk di sini. Aku menentengnya menuju bis yang membawaku menuju stasiun kota.
                Tiga puluh menit lagi kereta datang. Aku begitu tak nyaman dengan perasaanku. Aku mengambil ponsel di dalam tas dan menelfon Elsa.
                “Sa, gue udah di stasiun. Kamu lagi ngapain?”. Kataku di telpon.
                “Oh iya Tha, Aku lagi main sama adekku. Udah ngomong sama Erga kan?”. Tanya Elsa.
                “Belum Sa. Kemaren waktu gue mau ngomong, dia langsung pergi gitu aja ninggalin gue sendirian. Trus gue juga nemu mawar di sekitar dia berdiri, apa itu punya Erga ya? Ini mawarnya gue bawa ke Bandung. Waktu gue SMS dia balesnya lama, balesnya pun cuek banget..nget... Aku jadi merasa bersalah. Padahal niat gue cuma pengen ngasih salam perpisahan semoga ketemu lagi suatu saat nanti. Tapi ya udahlah, Erga mungkin udah benci banget sama gue. Tolong ya Sa, sampein salam gue ke Erga. Aku sayang banget sama dia!”. Kataku yang mulai meneteskan air mata.
                “Ya ampun Tha, Erga kok gitu banget ya. Iya ini mau gue kasih tau tuh si Erga! Tenang aja Tha, moga selamat sampai tujuan ya!”. Kata Elsa menutup percakapanku dengannya.
                Kereta menuju Bandung pun tiba setelah tiga puluh menit menunggu di ruang tunggu stasiun kota. Aku mendapat duduk di gerbong tiga.
                Erga lagi ngapain ya sekarang?. Tanyaku dalam hati.
                Jujur saja, Aku masih tak rela jika meninggalkan kota kelahiranku ini, tapi Aku harus menempuh pendidikan di sana.
                First on the second plan, menjadi mahasiswi yang baik, lulus dengan nilai terbaik, membahagiakan semua orang, dan... bertemu Erga suatu hari nanti!. This is my love plan.
    -Bersambung-


    Tunggu kehadiran cerpen terbaru Fiya berjudul MIRACLES (LOVE PLAN 2). Itu adalah lanjutan cerpen LOVE PLAN di atas. Semoga kalian gak bosen-bosennya ngintip isi blog ini, dan jangan  lupa untuk tinggalkan komentar kalian di sini... Happy reading ^_^
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me


    Photo Profile
    Kafiyatul Fithri ENGINEERING STUDENT

    Spread Kindness Like Confetti


    An engineering student who loves words by share it to the others through the pen and the lens

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Community

    Blogger Perempuan

    Labels

    BPN BPNRamadhan College Food HighSchool Lifestyle SepuluhNopember Story Thought
    Foto saya
    Kafiyatul Fithri
    Lihat profil lengkapku

    Recent Post

    Sreet Food Bundaran ITS Surabaya : Euphoria Ramadan a la Kampus Pahlawan

    Popular Posts

    Contact Us

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Followers

    Visitors

    Blog Archive

    • Mei 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juni 2018 (1)
    • Maret 2018 (2)
    • Mei 2017 (1)
    • Oktober 2016 (1)
    • Agustus 2016 (2)
    • Juli 2016 (3)
    • Juni 2016 (3)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2014 (1)
    • November 2013 (8)

    Cari Blog Ini

    Laporkan Penyalahgunaan

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top