Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

  • Home
  • Contact
facebook linkedin twitter

RETORI-KAF

BY KAFIYATUL FITHRI

    • Home
    • College
    • _High School
    • _Sepuluh Nopember
    • Lifestyle
    • Thought
    • Travel
    • Food
    • Story

    10 November 2018.

    Tentang Metallica
    Hari ini, malam ini untuk pertama kalinya saya nonton konser musik bergenre metallica. Sungguh, kesan pertama di benak saya saat merasakan genre musik ini adalah... menyenangkan.
    Saya tidak peduli dengan penampilan penyanyi maupun penontonnya. Jantung saya berdegup kencang mengikuti irama lagu bertempo cepat ini. Kepala saya refleks ikut ngangguk-nganggung mengikuti pukulan drum. Sangat menyenangkan menurut saya. Jika lain dengan pendapatmu, tidak apa :)

    ITS dan Power Metal
    Saya terpukau dengan kosep Dies Natalis tahun ini. Rangkaian konsep acara yang out of the box, berani ambil resiko. Awalnya saya takut mau nonton konser ini. Pikiran sudah menuju ke bayangan kerusuhan para penonton, haduh. Namun ternyata... damai-damai saja. Saya suka.
    Tahun lalu ITS menyajikan persembahan konser Kahitna dan Raissa. Semuanya free entry. Tahun ini, Power Metallica. Super sekali. Semoga dengan ini masyarakat termasuk para penggemar musik rock seperti mas-mas gondrong yang joget-joget tadi bisa menerima ITS sebagai kampus yang sangat terbuka untuk semua kalangan.

    Ada cerita dibalik metallica
    Saya kenal dengan seseorang, dia adalah sosok yang pemurah, pemberi semangat, humoris, dan berwibawa. Dia teman dekat kakak sejak SMA. Dan dia dikenal sebagai vokalis band rock atau jenis musik metal. Rambutnya gondrong, badannya kekar.
    Awal mula dia bercerita masuk ke dunia musik rock saya sempat kaget. Saya kaget bukan karena jenis musiknya, tapi karena..
    "Mas bisa nyanyi?"
    Boleh saya bernostalgia sebentar?
    Pernah dulu waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dia datang ke rumah duduk di ruang tamu menemani saya sedang bermain. Kemudian dia berusaha ngelucu.
    "Kenalin, Nicholas Saputra" Dengan bangga dia memperkenalkan diri sebagai Nico.
    "Siapa itu Nicholas Saputra?" Saya bingung belum tahu siapa Nicholas Saputra.
    Semenjak kakak lulus SMA, dia tidak lagi main ke rumah. Sempat lost contact dengan keluarga saya.
    Beranjak duduk di SMA, saya mulai mengenal Blackberry Messenger (BBM). Entah dari mana dapat PIN saya, tiba-tiba dia mengirim pesan. Saya takjub, dia memberikanku semangat tiada habisnya. Dia tau saya suka membaca, dia tau saya suka menulis. Saya mengikuti setiap saran darinya. Termasuk motivasi agar saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ya, dia juga turut ikut andil dalam perjalanan saya menempuh pendidikan sampai saat ini.
    Menurut saya dia adalah seorang sastrawan. Dibalik penampilannya yang kata orang sangar, namun di lubuk hatinya masih bisa menjadi orang yang selalu menebar kebaikan.
    Kalau kamu pernah dengar saya bercerita tentang buku Tere Liye, saya mendapatkan 3 buku Tere Liye darinya. Dikirim langsung dari tempat tinggalnya nan jauh disana.
    3 buku itu adalah Ayahku (bukan) Pembohong, Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membeci Angin, dan Berjuta Rasanya.
    Ada yang menarik dari tumpukan buku-buku itu. Saat kubuka cover bukunya, terlihat bubuhan tanda tangan cukup besar ukurannya memenuhi satu halaman.
    Tanda tangan seorang Tere Liye.
    Baik, dia telah mengirimkan tiga buku bersamaan dengan bubuhan tanda tangan si penulis. Terimakasih banyak.

    Kabar
    Tidak ada kabar lagi.
    Bukunya tertata rapi di lemari.
    Sudah kubaca berulang kali.
    __________________________________________

    Setelah melihat konser hari ini saya seolah membayangkan jika Anda berada di atas panggung sana menyanyikan sebuah lagu. Betapa hebohnya Anda. Haha.
    Dimanapun Anda berada semoga sehat selalu. Mainlah ke rumah jika rindu. Kita masih sama seperti dulu. Akan selalu menerima meskipun Anda dan teman-teman Anda sekalian pernah hampir merebut remot tv ku.


    Salam,
    Piya

    Continue Reading

    Sebelum aku lupa pengalaman naik turun tentang KP tahun ini, segera aja nulis di waktu luang sebelum beneran KP. Aamiin.
    (Karena nulis waktu kejadian lebih dapet feel nya daripada nulis pasca tragedi)

    Apa itu KP?
    KP adalah kependekan dari Kerja Praktek (orang-orang luar ITS biasa nyebutnya PKL). Kalau di ITS rentang waktu KP antara 1-2 bulan. Beda sama magang yang punya rentang waktu 3-6 bulan. (bisa kondisional penyebutan sama waktu kegiatannya). Mahasiswa sini rata-rata melaksanakan KP di liburan semester genap menuju semester ganjil. KP bisa dimana aja, tergantung jurusanmu ngasih izin atau tidak melaksanakan KP di perusahaan yang mau kamu tuju. Ikutin aja prosedur yang amat melelahkan ini.

    Sosialisasi KP
    Biasanya pengajuan proposal KP minimal 2 bulan sebelum pelaksanaan, karena tau sendiri lah yang KP bukan cuma jurusanmu doang. Ngerasa telat banget sosialisasi kemaren menurutku. Februari masuk kuliah, Maret pertengahan kalau tidak salah baru diadakan sosialisasi KP. Belum bikin proposal, cari-cari kontak perusahaan, ngajuin proposal, belum lagi kalau ditolak perusahaan. Nyeselnya, kenapa gak dari dulu-dulu aja nanya tentang beginian ke kakak tingkat. Semester kemaren juga kebanyakan ngeluh tugas mata kuliah dan malah tidak memikirkan hal yang bersifat jangka panjang seperti... KP.

    Persyaratan KP
    Jurusan sebelah, syarat pengajuan KP dengan SKS tempuh minimal sekian SKS. Jurusan sini, syarat pengajuan KP dengan SKS lulus minimal 93 SKS, lulus semua mata kuliah semester 1 sampai semester 5 (Nilai sismik belum keluar, SKS lulus ku masih 90. Bergetar hatiku)
    Sebelumnya udah ada partner yang bakal KP denganku, tapi karena belum memenuhi syarat diatas alhasil saya dewean. Emang banyak surprise nya disini, bukan 93 SKS awalnya melainkan 90 SKS. Tiba-tiba saja berubah persyaratan tepat setelah demo salah satu mata kuliah jam setengah 4 sore di ruang A235. (Gilee bikin nyesek aja nih orang-orang ya)
    Masih terombang-ambing aku mau KP dimana, sama siapa. Saat itu udah bulan April. Niatku KP bulan Juni, Sob 😊 Akhirnya dipertemukan dengan dua orang cowok yang bakal jadi partner KP sebulan di... (dimana hayo?)

    Tiap Menit Lihat Email
    Ini part paling seru di jilid 1, nyari kontak perusahaan. Aku udah join sama dua orang teman KP, kita ngelist perusahaan mana yang kira-kira cocok buat tempat KP. Setelah mengirim email ke beberapa perusahaan, akhirnya ada email masuk dari HRD PT. PJB (senengnya gak karuan). Isinya mereka menerima mahasiswa yang akan melakukan KP, segera kirim proposal ke alamat ini dan seterusnya.
    Next, kita konsultasi ke dosen. Seakan dibutakan oleh tawaran, kita meninggalkan yang lain untuk mengajukan proposal ke Kudus.
    Dan cerita berawal dari sini...

    Manis di Awal Pahit di Akhir
    Pernah suatu hari aku menghubungi pihak Kudus untuk tanya-tanya mengenai KP. Ternyata mereka hanya menerima mahasiswa magang untuk rentang waktu 6 bulan. Skip dong, kuliah saya bagaimana. Lain hari, bapak dosen menawarkan ke situ juga bisa 1 bulan, kita tertarik. Bikin proposal, konsultasi, minta tanda tangan, ambil surat pengantar, lalu dikirimkan. Nunggu kira-kira hampir sebulan, ternyata kuota penuh. Siap!
    Posisi di dalam kereta perjalanan pulang ke Kediri. Cuaca panas, puasa pula, dapat pemberitahuan suruh bikin proposal untuk diajukan ke Jakarta. Mikir lagi, Jakarta? Apa kata mamak saya ya? Laptop yang sudah saya simpan rapi di bagasi atas akhirnya saya buka di tengah-tengah ramainya gerbong kereta.
    Proposal sudah selesai dibuat, minta tanda tangan, ambil surat pengantar, lalu dikirimkan. Sudah banyak orang yang kita ajak panik bareng-bareng untuk meminta konfirmasi tentang status pengajuan proposal di Jakarta. Tidak kurang dari sebulan, dari dua kelompok yang mengajukan hanya satu yang bisa KP disana, dan itu bukan kelompok kita. Paitnyaa

    Tentang Keluarga
    Tadi udah ketemu titik keresahan diatas, Mikir lagi, Jakarta? Apa kata mamak saya ya?
    Selepas beres-beres merapikan barang bawaan di kamar, laporan ke ibu kalau aku ngajuin KP di Jakarta. Raut wajah ibu berubah. Gaenak gitu lihatnya. Dengan segala negosiasi yang ada, akhirnya diperbolehkan berangkat jika diterima (Kayanya beraat gitu). Tapi udah kelihatan gak dapet restu berangkat ke Jakarta dari ibu. Grup udah panik, ribut sendiri, batin gak enak tidur tak nyenyak tapi makan masih lahap. Sempet nangis bombay juga, mikir kalau gak KP sekarang mau kapan lagi. Konsentrasi susah kebagi kalau harus KP semester depan.
    “PKL disini aja, Ya” ibu sudah berkata begitu artinya ibu sudah berdo’a supaya kita KP disini saja.
    Yang benar saja, pengajuan dari Jakarta ditolak 3 hari setelah ibu bilang begitu. Pagi hari sebelum kabar penolakan, aku udah feeling sepertinya dan pengen banget bikin proposal buat diajuin ke perusahaan lain. Jam 12 siang proposal kelar, ku kirimkan ke grup untuk diprint dan dimintakan tanda tangan. Surat pengantar sekaligus proposal ku ambil Hari Jum’at karena gak mau kelamaan kalau harus ngirim dari Surabaya ke Kediri lewat kurir. Hari Sabtu balik ke Kediri dan mengirimkan proposal itu untuk diajukan ke sebuah perusahaan disini.

    Sebulan digantung
    Belum kelar gelisahnya. Sebulan follow up lewat kakak, tiap jam 10 pagi dari Senin sampai Sabtu kirim WA
    “Gimana, Mas?”
    “Udah belum, Mas?”
    “Ada kelanjutan nggak?”.
    Sampai pas ada WA masuk ku kira dari Mas, ternyata dari si naruto. Yhaaa

    Belum ada balasan
    Panik dong kita udah mau mepet akhir bulan Juli tapi belum ada respon. Plan A Plan B Plan C disiapin, intinya udah pasrah tapi masih gamau nyerah. Alhasil tiada hari tanpa air mata.
    Mungkin temen-temen di grup udah muak dengan responku ketika mereka nanya “Rek ada kabar?” aku jawab “Belum”. Berat banget mau bales chat karena memang gak ada kabar sama sekali.
    Hari-hari pasrah, salah seorang teman menyarankan berangkat ke luar kota aja kalau memang gak ada kejelasan disini. Bukan luar kota sih, luar pulau lebih tepatnya. Lucunya, aku dan kakak sama-sama gak berani bilang ke ibu kalau kondisinya udah hopeless kaya gini. Kaya udah lelah kena marah. It feels like... “Yaudah marah aja buk, siap mendengarkan kok :’)”



    Finally
    Karena semalaman begadang karena ada kerjaan, akhirnya Hari Kamis pagi sehabis subuh tidur lagi (sebenernya gaboleh kaya gini). Kebangun jam setengah 8 pagi karena ada telepon masuk dari unknown phone number. Asli, awalnya ku kira penipuan. Angkat telepon, suara mbak mbak. Well, mbak mbak HRD ternyata. Mbak mbak HRD yang kunamai Unit 3 di WA (padahal gatau mbaknya unit berapa) ngasih tau kalau besok Hari Jum’at suruh dateng ke kantor buat interview. Gilaa super excited banget lah jelas!
    Keesokan harinya selepas waktu Jum’atan, aku dan temen-temen dateng ke kantor buat interview. Ternyata gak semua perusahaan ngadain interview buat nerima anak KP. Lumayan lah, sedikit pemanasan buat pasca campus.
    Selama interview beberapa pertanyaan terlontarkan. Banyak yang gak kejawab, kadang bisa jawab tapi salah-salah. Percayalah, di atas langit masih ada langit. Dalam hati, ikhtiar tawakal apapun hasilnya diterima dengan ikhlas.
    Alangkah sejuknya hari itu gaess... lihat sampah jadi seneng apalagi lihat interviewer bilang “Senin mulai KP”. Alhamdulillah. Dingin AC nya.

    Kemudian... kita diterima KP.

    Terimakasih, Kakak paling Oye ðŸ˜Š
    Terimakasih, Bapak 😊

    ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
    To be continued....

    Continue Reading

    Bukan biografi, bukan pula opini yang biasa saya tulis disini.
    Mungkin terlihat seperti testimoni.
    Dari seorang mahasiswi yang selalu dipenuhi kebahagiaan sepanjang hari. 😊

    ***

    Biasa curhat tentang beginian di Twitter, tapi karena doi gak mungkin menampung 600-an kata jadi saya tumpahkan disini saja.

    ***

    Selamat datang semester 1. Saya nggak nyangka bisa menghirup udara segar disini. Berjalan penuh semangat dari asrama menuju jurusan. Masih ingat betul kala itu saya berpakaian amat rapi, celana jeans hitam, baju biru motif (motif apaan ya itu, bagus tapi gambarnya, saya suka), jilbab biru donker, dan sepatu navy (seneng dong sekolah gak melulu pakai sepatu hitam polos lagi). Yak, awal mula perkuliahan terasa sangat-sangat menyenangkan. Sampai gak sadar ketika mahasiswa baru datang berarti mereka menjadi incaran kating. Pffft.

    Pakaian kuliah saya berubah jadi memakai rok hitam, kemeja dimasukkin rok, pakai pin, dan kemana-mana bawa buku tebel bersampul biru. Hmm gimana ya, dari situ kehidupan saya mulai gak beraturan. Jauh dari orang tua kayanya membuat saya jadi nggak kenal lelah (ini artinya emang gak ada yang ngingetin kegiatan saya sudah kelewatan jam terbangnya). Tidur lewat jam 12 malam, makan telat. Sebenernya tidur lewat jam 12 malam udah dari zaman MTs gara-gara kecanduan nonton Penghuni Terakhir berlanjut ke SMA suka tidur malam gara-gara ...

    Perkuliahan terasa lancar, sampai keluar IPK pertama saya. Lah kok jadi begini ya. Gak begitu buruk tapi kalau dipikir-pikir modal segini bisa kuat gak ya sampai semester 8? Saya buntu, saya bingung, saya panik.

    Semester 2 masih dimasa-masa merasakan nikmatnya menjadi mahasiswa dan lelahnya menjadi peserta ‘ospek’. Yak seperti yang biasa saya lakukan semasa sekolah, nulis di blog dan ikut lomba nulis. Saya sempet ikut UKM, tapi bukan di bagian jurnalistik. Satu UKM saja saya ikuti rasanya seperti kehabisan waktu untuk kuliah yang ternyata jauh dari passion saya, waktu untuk ikut ‘ospek’, dan waktu untuk nulis.

    Wait, kuliah yang ternyata jauh dari passion saya. Ini yang sebenarnya inti dari tulisan saya. Tapi memang doyan basa-basi di awal jadi gak to the point dari tadi.

    Kenapa bisa gak pas sama jurusan ini?

    Satu, tak kirain ini jurusan nyrempet yang bau-bau multimedia. Kalau orang awam seperti saya awalnya mikir jurusan ini bakal seruuuuuuu. Bagi saya, biasa saja malah cenderung menguras emosi.

    Dua, saya pengen terjun ke dunia jurnalistik, sastra, broadcasting, apalagi yaa... Nyatanya saya menggeluti semua itu sebatas ikut lomba, ngeblog, baca buku, ikut seminar kepenulisan, dan konsultasi sama penulis. Huhu...

    Kok bisa kepikiran teknik?

    Gak bisa dipungkiri, dari SD udah kepingin masuk PTN yang saya singgahi sekarang. Tapi masih gak paham mau masuk jurusan apa. Berhubung suka dengan visualisasi dan dikit-dikit paham teknologi, jatuh pilihan ke jurusan Teknik Informatika ITS dan Multimedia Broadcasting PENS (yang ini feeling nggak di acc, mbuh lapo o). Lalu melipir ke jurusan saya yang sekarang karena sudah minder duluan lihat passing grade Teknik Informatika. Whops, lolos ke jurusan ini lalu melihat mata kuliahnya, dimana letak multimedianya? Ternyata eh ternyata, ganti nama 😊

    Semester-semester berikutnya saya bertahan dengan kemampuan seadanya, dan berusaha upgrade bagaimanapun kondisinya. IPK sempet anjlok, tapi sekarang naik alhamdulillah. Masih inget stressnya, Astaghfirullah.

    Hidup itu ada banyak sekali pilihan. Termasuk saya sendiri yang kebanyakan memilih daripada memperbaiki. Sudah semester 6, duh salah, Bulan Agustus 2018 saya resmi masuk ke zona 7 (semester 7). Terus terang agak takut dibayang-bayangin bagaimana nanti KP, seminar KP, ketemu Visikom (PCV aja gak karuan semester ini), Techno, PraTA, TA, bimbingan, sidang-sidang, dan magang. Merasa masih terlalu fakir ilmu dan gak percaya diri. Sama sekali gak PD. Nglewatin semester 6 aja drama nya jempol dua. Kehabisan uang beli komponen, minggu ketiga kuliah udah gak tahan pengen drop matkul, nangis bombay tugas numpuk, kerjaan kurang bener, demo kena semprot dosen. Brrrr.

    Semester 7, semoga dimudahkan. Aamiin.

    Random sekali tulisan saya malam ini. Saya akan lanjutkan suatu hari nanti. Saya mengantuk, playlist sudah looping dari tadi. Jangan lupa sahur, nanti puasa lagi.

    ***

    Jadi bagaimana rasanya kuliah disini?
    Kuliah itu rasa kopi. Dia pahit, tapi akan terasa nikmat jika sudah terbiasa.
    Selamat malam 😊



    pict by pixabay.com
    Continue Reading
    Tbh, this is my first anti-mainstream Curriculum Vitae.
    Hope you like it :)


    PERSONAL INFO

    _____________________________________



    Hi, my name is Kafiyatul Fithri. You can call me Fiya and I am 20 years old.
    I'm the third of four children.
    I was born in Kediri on February 6, 1998.
    Currently I and my family live in Sersan Suharmaji Street number 89, Kediri, East Java.


    EDUCATION

    _____________________________________


    I started my elementary school at SDN Manisrenggo Kediri. It was an unexpecting moment when you be the youngest student among your classmates. I like singing since 8 years old. I'd been a main vocal at Banjari community in my school. I was very proud about it.  I've been a part of the Drum-Band club "Nirwana Nada".
    After graduated from elementary school in 2009, I continued my education in MTsN Kediri 2 also known as Matsanda. I learned a lot about the religion's knowledge in this school. Fiqh, Akidah, history of Islamic culture, and etc. I've been bullied in this school. I don't know about the reasons why they were bullied me, but I think because of my age was too young.
    Finally, I went to the part of the prettiest of novel's story, Senior High School. I entered at SMAN 4 Kediri in 2012 and graduated in 2015. I was so excited to learn anything about design, writing experience, and everything about journalism.
    And the last but not least. I achieved the highest goal of my life over in the last sixteens years, Computer Engineering at Sepuluh Nopember Institute of Technology in 2015. I didn't expect to be the youngest student again, but I always hope to be the same or maybe better than those who are more established than me.


     


    EXPERIENCE

    _____________________________________


    One of my hobby is gathering with the other people like following an organization. So I decided to join School Student Organization since Junior High School (Staff of Entrepreneurship Department) till Senior High School (Vice Head of Character Building Department). The others I also joined journalistic community in SMAN 4 Kediri. I was entrusted to be a leader of school magazine "KARISMA 4" from 2013 to 2014.
    At the second year of my college, I joined BEM FTI ITS as Staff of Education, Science and Technology Department. At the third year I was given a mandate to be Secretary of Research and Technology Department in HIMATEKTRO ITS.


    ACHIEVEMENT

    _____________________________________


    My hobby is writing and reading. I really love reading novel and motivation book like Mimpi Sejuta Dollar, Metamorfosa, and the other books by Esi Lahur and Primadonna Angela. 
    Through my hobby of reading a book, I can recognize tips and tricks to write something. Whether it's writing opinions, articles, short stories, and essays.
    Some of achievements I've been achieved since I was in high school.
    • Finalist of Olimpiade Bahasa Indonesia in 2014
    • Finalist of Indonesian detective anthology by Katamagz in 2015
    • First winner of educational short story competition STAI Al Anwar Rembang in 2016
    • First winner writing opinion SPM LPM Edents Universitas Diponegoro in 2017
    • Semifinalist CommuLINEnity Manager STARTING LINE 2017
    *You can read all of my masterpieces by clicking the available links :)

    I really like literature. Even, I have a dream to be a famous and great writer. Two books have been released in collaboration with finalists of several writing competition. "Tanpa Cinta" and "Manusia dalam Bingkai Perbedaan"


    _____________________________________


    SKILLS

    _____________________________________

    I have the ability to work well and have high responsibilities. I am a hard worker and able to work under pressure.
    For hard skills, I have a pretty good graphic design capability, programming C, web programming php & mysql, and of course I have the ability to be a creative content creator.

    _____________________________________


    CONTACTS

    _____________________________________


    If you want to know more about me, you can contacts me on:
    Phone       : +62 85655597051
    Email       : fiyakafiya@gmail.com
    LinkedIn  : Kafiyatul Fithri
    Continue Reading

    Menembus Batas
    Oleh: Kafiyatul Fithri

    Tumpukkan berkas pendaftaran perguruan tinggi sudah tertata rapi di meja belajar. Kurang satu lagi yang teramat penting, Surat Penghasilan Orang Tua. Aku dan ayah bergegas meminta surat pengantar dari RT. Ayah muda berpostur tinggi menyambut kedatangan kami di rumahnya. Sembari menulis sesuatu di secarik kertas, beliau tersenyum setelah mendengar permohonanku mengenai surat pengantar itu.
                “Perempuan di rumah saja bantu ibumu. Sekolah jauh-jauh kalau ujungnya tetap 3M berarti buang-buang duit, nduk!” Istilah 3M memang cukup terkenal di kampung ini. Masak (Memasak), Macak (Berdandan), Manak (Beranak) begitulah kira-kira.
                Ayahku menanggapinya dengan santai. Sebagai seorang ayah yang tengah melihat putrinya tumbuh menjadi pribadi yang berpendidikan dan bermoral baik tentu kelak akan menjadi harta yang tak ternilai harganya.
                Ini secuil kisah yang membuat tekadku bulat untuk menjadi wanita sukses di masa mendatang. Banyak yang mengira aku berhenti melanjutkan pendidikan selepas SMA karena melihat teman-temanku sudah mempersiapkan acara pernikahannya masing-masing. Pengumuman calon mahasiswa baru cukup mengejutkanku, aku diterima pada pilihan pertamaku di sebuah perguruan tinggi dengan banyak kaum adam disana.
                “Bagaimana kehidupan anak teknik?” Salah seorang temanku, mahasiswi FKM bertanya kepadaku saat reunian pekan lalu.
                “Jarang mandi.” Jawabku sambil tertawa kecil.
     “Disana banyak cowok kan? Pernah ada yang disuka? Eh, kenalin satu dong ke aku.” Seperti itulah cuitan yang sering kudengar setiap bertemu dengan teman lama.
    Siapa yang tidak pernah jatuh cinta? Pernah menyatakannya?
     Tunggu, wanita bilang duluan? Benar. Pernah dengar kisah Khadijah dan Nabi Muhammad SAW, Khadijah lah yang pertama melamar Nabi Muhammad melalui sahabatnya. Kesetaraan hak seperti itu nyatanya sudah ada sejak zaman Nabi. Begitu indah bukan?
    Lebaran tahun ini tak banyak rumah yang ku sambangi, kebanyakan pergi ke rumah saudara yang letaknya lumayan jauh dari desa. Ketika suatu hari kedatangan tamu yang cukup dekat dengan keluargaku, mereka berniat menjodohkanku dengan pria yang sering mereka sebutkan dalam perbincangan.
    “S1, sungguh. Punya sawah juga. Cocok lah buat anak ketiga.” Promosi yang menurut mereka meyakinkan.
    “Nggak, jangan bilang jodoh. Tia bisa cari sendiri.” Aku bersikeras menolak.
    “Orang-orang memang begitu, nduk. Nggak usah terlalu dipikirin. Sekolah dulu, lalu kerja di tempat yang baik. Urusan pendamping hidup itu yang jalani kamu, ayah dan ibu mendoakanmu.” Ayah dan Ibu berusaha menenangkanku.
    “Aku boleh jadi Insinyur?” Tanyaku.
    “Bahkan kamu boleh kok punya perusahaan sekelas Pertamina.” Ibuku tersenyum.
    Pada kenyataannya, seorang pria mapan di luar sana akan mencari wanita yang cerdas. Siapa lagi bila bukan wanita dengan kepribadian yang baik dan senantiasa memantaskan diri sejak dini.
    Persamaan gender antara wanita dan pria saat ini sudah sangat umum kita lihat. Banyak wanita masa kini yang berkiprah di dunia yang cukup keras. Aku melihat sosok Ibu Susi Pudjiastuti, Ibu Khofifah Indar Parawansa, Mbak Najwa Shihab, dan masih banyak wanita cerdas di sekitar kita, mereka mampu mencapai kesuksesan seperti sekarang. Wanita mampu menjadi kuat seperti pria, tapi tidak akan mungkin menjadi lebih kuat dari pria. Seorang putri tidak cukup berdiam diri menunggu pangeran menjemputnya. Wanita yang berkualitas adalah mereka yang memiliki pendirian dalam dirinya.
    Tanyakan pada ayah, apakah seorang wanita pantas memiliki derajat sejajar pria. Tanyakan pada seorang pria, apakah dia mau memiliki istri yang membantunya mencari nafkah. Lalu katakan pada semua orang, wanita itu hebat.


    _________________________________________________________________________________


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Photo Profile
    Kafiyatul Fithri ENGINEERING STUDENT

    Spread Kindness Like Confetti


    An engineering student who loves words by share it to the others through the pen and the lens

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Community

    Blogger Perempuan

    Labels

    BPN BPNRamadhan College Food HighSchool Lifestyle SepuluhNopember Story Thought
    Foto saya
    Kafiyatul Fithri
    Lihat profil lengkapku

    Recent Post

    Sreet Food Bundaran ITS Surabaya : Euphoria Ramadan a la Kampus Pahlawan

    Popular Posts

    Contact Us

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Followers

    Visitors

    Blog Archive

    • Mei 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juni 2018 (1)
    • Maret 2018 (2)
    • Mei 2017 (1)
    • Oktober 2016 (1)
    • Agustus 2016 (2)
    • Juli 2016 (3)
    • Juni 2016 (3)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2014 (1)
    • November 2013 (8)

    Cari Blog Ini

    Laporkan Penyalahgunaan

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top