Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

  • Home
  • Contact
facebook linkedin twitter

RETORI-KAF

BY KAFIYATUL FITHRI

    • Home
    • College
    • _High School
    • _Sepuluh Nopember
    • Lifestyle
    • Thought
    • Travel
    • Food
    • Story
    Habis lihat hasil jerih payah kuliah satu semester rasanya nyeri di pikiran . Duh lebay banget ya gini doang langsung posting di blog. Yah inilah yang bisa saya lakukan sekarang, mencurahkan segala pemikiran lewat tulisan .
    Kalau bicara anak kuliahan, identik dong dengan singkatan IP. Udah gak perlu dijelaskan juga ntar paham sendiri. Hidup dan mati mahasiswa seolah-olah ada di tangan dosen yang memberikan sebuah penilaian atas kerja kerasmu saat perkuliahan. Dan penilaian itu diakumulasi dan diwujudkan melalui IP.
    Kalau melihat nilai matkul A, AB, atau B lah minimal rasanya hati lega ya (bayangin aja ente habis boker leganya kaya apa, sensasi plong). Nah kalau nyatanya dapet nilai BC, C, duh ngeri yang ini D sampai E (naudzubillah) fix Anda harus mengulang mata kuliah ini. Bukan gak sedih lagi, tapi udah kebawa mules, rasanya tuh kaya diare tapi gak ada ujungnya. *lebay
    Kembali berintrospeksi dan berkaca pada diri masing-masing. Sudahkah kita mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki saat menjalani kuliah? Sudahkah kita bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan sekarang.
    Lucunya ketika kita sedang mendapatkan musibah semacam ini, kita malah menyalahkan pihak lain dan menuduh mereka sebagai penyebabnya. Ini deh kayanya yang salah sama mahasiswa, menuntut segalanya baik tapi usahanya yang kurang baik.
    Next, jangan hanya bergantung pada IP semata. Toh hidupmu juga gak bergantung dengan rumus dan angka. Dinamiskan hidupmu (asequeee)
    Cari kerjaan, ngembangin hobi biar jadi duit, ikut lomba sana sini, berorganisasi, jadi panitia event, dan masih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan sambil nunggu delapan semester itu berakhir dengan indah 
    Jadi, jangan menyerah dan merasa kalah saat menghadapi nilai jeblok dan IPK anjlok. Roda kehidupan pasti berputar. Hanya saja kita masih mager muter rodanya.
    Intine ojo mager!!! 
    See ya, fellas 

    Continue Reading
    Ramadhan telah tiba. Saatnya berbagi suka cita, canda dan tawa terhadap sesama. Gak lengkap dong rasanya kalau nggak ngadain buka bersama bareng teman sebaya apalagi dengan kawan lama dan gebetan lama *eh ngaco.
    Tuh title nya kok gitu ya, udah wacana pake problematika pula. Emang lagi musimnya gitu ya ngrencanain buka bersama ini itu alhasil hanya "Watjana".
    "bukber yuk"
    "ayuk, kapan, dimana?"
    "aku sih oke-oke aja, yang lain gimana"
    Gitu terus aja sampe lebaran tahun depan.
    Boro-boro nentuin tanggal sama tempat, ngumpulin masa aja syusaahnya minta ampun ya bosq.
    Ada lagi problem bukber yang cuma memberatkan satu pihak. Duh kasihan ya nentuin tanggal, tempat, booking makanan sendiri, yang paling parah harus nalangin duit DP sendirian. Untung" yang ikut ntar banyak, nah kalo cuman dikit ya wassalam. *Ya Allah curhat ta neng
    Alhamdulillah Fiya nggak sampe gitu kok.
    OK next 
    Problem berikutnya waktu satu angkatan udah ngadain bukber dan ada wacana bikin bukber kelas. Dilema pun terjadi. Ada yang ikut bukber angkatan tapi gak ikut bukber kelas, ada yang gak ikut bukber angkatan tapi preferred ke bukber kelas. Jangan sampe malah lost contact dan gaikut keduanya tanpa alasan yang jelas. *idih maunya apasih
    Ini pernah nih kejadian bukber alumni gitu ceritanya. Tapi ya ngerasa sendirian aja disitu, ngeliatin tingkah polah temen-temen yang masih ngumpul sama gengs nya sendiri-sendiri. Pikir ane kenapa mereka nggak bikin bukber komplotan mereka sendiri aja ya daripada ngajak yang lain dan pada akhirnya harus dibiarin mengering mentah-mentah. *duh ganas
    Pada intinya kumpul-kumpul semacam buka bersama kaya gini tuh enak bosq. Sebagai sarana reunian juga kan. Tapi jangan memberatkan salah satu pihak juga. Namanya angkatan juga harus solid kan yaa. *nggak mau solid yaudah jadi liquid aja sono
    Semoga Ramadhan tahun ini berkah dan tidak ada pertentangan dan permusuhan di antara kita.
    Marhaban Yaa Ramadhan 
    Continue Reading
    JANGAN KOLOT, INI INDONESIA
    OLEH: KAFIYATUL FITHRI
    Apa yang sedang aku rasakan sekarang? Miris. Benar apa kata orang tua jaman dahulu semakin tua dunia ini semakin terkikis pula moral manusia masa kini. Namaku Azizah, aku bukan seorang aktivis yang gemar berkoar-koar di depan rektorat, bukan pula anak muda yang berambisi menjadi pejabat publik materialistis. Aku seorang mahasiswi yang saat ini hanya bisa mengelus dada melihat tingkah laku anak SMA yang kekinian di masanya. Berulang kali explore di Instagram memperlihatkan kaki mulus para calon alumnus SMA. Iya kupikir calon karena mereka belum tentu bisa mendengar kata “Selamat Anda lulus” dari kepala sekolah. Usai menghelat hari terakhir Ujian Nasional, tak luput dari genggaman mereka sebuah pilox dan boardmarker warna-warni. Untuk apa lagi kalau bukan menggelar aksi corat-coret di lapangan tengah kota, balapan seenakudelnya, dan hal yang mungkin sedang hangat diperbincangkan adalah aksi foto para punggawa SMA menggunakan pakaian seragam serba mini dengan balutan rok panjang yang disobek jahitannya hingga atas lutut. Gincu sana-sini, peringatan non-muhrim pun tak dapat dihindari, duh! Alangkah lucunya negeri ini.
    Ratusan bahkan ribuan likers Instagram menjadi incaran para siswa ‘hitz’ atau sekedar numpang ‘hitz’. Tak luput hujatan dari para commenters mengenai fenomena ini. Followers mulai menampakkan perubahannya yang mulanya hanya ratusan kini melonjak dengan imbuhan huruf K dibelakangnya.
    Moral anak bangsa memang tak ada habisnya menghiasi berita. Lalu siapa yang patut disalahkan?
    “Loh bukannya sekolah mengajarkan anak didiknya untuk bertingkah laku yang baik?” pemikiran yang logis tapi belum tentu kritis.
    Masa remaja adalah saat dimana seorang anak mencari jati dirinya. Bertingkah sesuai keingininannya dan menutupi semua gengsinya. Tapi bukan berarti seorang remaja bisa bebas melakukan itu semua, kodratnya seorang pemuda adalah menjadi generasi penerus dan pelurus bangsa. Menjunjung nama baik keluarga dan dirinya. Namun pada kenyataannya hanya segelintir dari mereka yang mampu menunjukkan prestasi gemilangnya. Sisanya? Lihat sendiri tingkah laku mereka, cium ketek pacar, foto di perempatan lampu merah, skandal pra kelulusan coret baju mini tiada henti, dugem pasca Ujian Nasional, dan hal lain yang tidak bisa kutebak sebelumnya. Sistem pendidikan di Indonesia kurasa sudah cukup baik walau ada ketidakpemerataan sistem di semua sekolah. Pendidikan moral yang ditanamkan di Indonesia sudah dibentuk sejak mereka masih duduk di bangku TK. Kembali berkaca pada diri masing-masing, sudah benarkah pendidikan di negeri kita. Haruskah ada problematika yang akan terus menerpa?. Moral anak muda bangsa kita memang perlu dilakukan rehabilitasi.
    “Jah, lu ngomong rehabilitasi kaya pemakai aja”. Gelitik Marcia, teman kuliahku yang rupanya miris juga dengan situasi pendidikan di Indonesia. Dia memandang bahwa sistem yang dijalankan pemerintah mengenai proses pendidikan di Indonesia belum baik.
    “Mbak Jah aku nggak lolos SNMPTN, terus yaapa?” tamparan keras bagi mereka yang gagal lolos seleksi SNMPTN tahun ini. Bertebaran ucapan ‘selamat’,’sabar’, dan ‘masih ada jalan lain kok’ diiringi emoji smile di media social manapun. Next trip isSBMPTN, ujian tulis masuk perguruan tinggi negeri yang biasanya atau malah pada umumnya barengan dengan jadwal daftar ulang mahasiswa baru jalur SNMPTN. Dan lagi, bertebaran screencapture formulir SBMPTN di media sosial yang rata-rata menggunakan caption ‘doakan semoga lancar’. Amin.
    Kembali ke masa dimana H-100 menjelang Ujian Nasional. Para siswa yang awalnya ogah-ogahan masuk masjid untuk berjamaah, lihat saja masjid sekolah penuh dengan seragam ber-badge XII. Promo bimbingan belajar juga mulai menarik massa dari berbagai wilayah. Pesan broadcast berisi ucapan minta maaf juga tak luput dari perhatianku. Puluhan pesan broadcast masuk di chat BBM. Bahkan ada beberapa teman yang mulai muak dengan kebiasaan itu hingga menuliskan personal message ‘bc-an tok’yang berarti bc(broadcast) mulu, dan ‘iya udah dimaafin kok’.
    Sekali lagi, duh! Alangkah lucunya negeri ini.
                Dimana ada Ujian Nasional disitu ada kunci jawaban. Sudah tidak asing lagi bukan dengan aktivitas kriminal seperti ini. Benar-benar merusak moral dan mental anak bangsa. Bagaimana tidak? Mereka yang bertugas menjadi bandar kunci jawaban di sekolahnya dituntut harus pintar menyelundupkan barang. Siswa yang membeli dan memakai kunci jawaban juga terkena dampaknya. Aku yang bersikeras menolak tawaran itu tetap saja mendapatkan bujuk rayu dari para bandar.
                “Lumayan lho satu sekolah dibanderol tiga puluh juta, kalo dapet klien banyak bisa murah bayarnya” Kata seorang teman yang tiba-tiba berbisik di telingaku.
                “Iya kalau kuncimu valid, kalau tidak? Good luck guys!” Kalimat yang sempat terlontar saat aku melihat hampir seluruh teman sekelasku memakai kunci jawaban. Banyak yang mengira aku iri melihat mereka. Nilai kejujuranmu berawal dari sini. Percayalah suatu saat nanti ketika hasil itu keluar atas usahamu sendiri, jelek atau baik hasilnya itu adalah kerja kerasmu dan kau akan bangga mendapatkannya.
    ***
                Halo dunia perkuliahan, dunia yang penuh dengan birokrasi dan opini, kritik yang cukup cerdik, dan angkatan yang tentu membanggakan.
    Halo dunia perkuliahan, perangmu dimulai dari sekarang!
                Berbicara kuliah tentu tak lepas dari yang namanya OSPEK. Isu-isu lucu nan menggelitik pun tersiar dan sampai di telingaku.
    “OSPEK kampus A tiap Sabtu Minggu, mampus dah nggak malmingan” pendapat satu.
    “OSPEK kampus B tiga hari doing tuh” pendapat dua
    “Di kampus C OSPEK nya setahun. Kebayang gak sih dua semester dibentakin terus” pendapat terakhir.
    Haruskah proses pengenalan kampus dengan cara mengintimidasi mahasiswa baru? Mungkin itu hanya pandangan mereka yang melihat OSPEK yang terjadi di kampus yang menghalalkan cara itu. Sisi baik dari sistem ini ada beberapa atau mungkin sudah banyak aturan mengenai pelarangan OSPEK menggunakan cara fisik. Ini tentu mengurangi dampak buruk yang terjadi dalam proses pengenalan kampus ini. Seperti yang sudah diketahui OSPEK telah menimbulkan korban akibat caranya yang salah. Berkaca dari sistem OSPEK atau pengenalan kampus di Australia, mereka melakukan hal semacam ini melalui seminar dan workshop di kampus mereka. Dengan cara praktis mereka melakukan hal itu dan tentunya hasilnya pun lebih baik dari sekedar main fisik yang marak terjadi di Indonesia.
    Mungkin nilai akademik tidak akan cukup untuk membentuk kepribadian yang baik dan sesuai dengan harapan bangsa. Hidup tidak monoton mempersoalkan teori dan angka. Buat hidup lebih dinamis terasa lebih menyenangkan ketimbang berdiam diri dan rumus dan persoalan yang tak akan mati ditelan dinasti. Senang bukan berarti mewah, tapi senang akan terbawa dalam jiwa bila semua orang sadar akan pentingnya pendidikan moral.
                Jangan kolot, ini Indonesia. Negeri yang perlu dibenahi dan dijaga. Bila pendidikan moral yang dibentuk belum sepenuhnya masuk ke dalam jiwa para pelajar, sudah saatnya kita meluruskan apa yang salah dan meneruskan yang benar.
                Ini secuil kisah. Kisah tentang dunia pendidikan Indonesia yang akan menjadi evaluasi dan introspeksi diri.

    http://pgmistaiwar.blogspot.co.id/2016/06/asli-pengumuman-lomba-puisi-dan-cerpen_11.html

    Continue Reading
    Sedikit kicauan dari anak rantauan yang baru mengenal dunia perkuliahan.
    Setahun yang lalu, hampir saja aku pingsan di depan komputer warnet setelah melihat pengumuman kelulusan seleksi perguruan tinggi negeri. Iya, aku diterima di sebuah PTN favoritku yang aku idamkan sejak kecil.
    Banyak yang mengatakan ospek disini sampai setahun. Kedua kakakku pun mengatakan hal serupa. Maklum saja kedua kakakku juga lulusan PTN ini.
    Bukan ospek namanya, melainkan pengkaderan. Jangan tanya apa itu pengkaderan, jujur aku sendiri nggak terlalu paham apa makna mutlak dari kata pengkaderan. Aku masuk jurusan yang ternyata masih satu keluarga dengan himpunan yang terkenal keras pengkaderannya.
    Aku dipertemukan dengan 245 mahasiswa baru lainnya dari seluruh penjuru negeri pada tanggal 25 Agustus 2015.
    Apalah daya ketika pertama kali dikumpulkan dalam satu kesatuan, kami tak saling mengenal, belum tau cara berkoordinasi. Lucu saja ketika ditanya tentang kehadiran, kami hanya terdiam. Solusinya saat itu cuma satu, berhitung. Lah untuk berhitung saja kami masih menggunakan metode kuno saat itu. (kalo mengingatnya jadi terharu)
    Kisah berikutnya ketika satu persatu dari kami mulai pergi meninggalkan kampus dan memilih universitas lain. Tersisa 237 kepala yang siap menghadapi dunia. Delapan bulan penuh kami dididik dengan berbagai cara agar kami bisa menanamkan rasa cinta terhadap jurusan, rasa kepedulian sesama teman seperjuangan, solidaritas, dan bagaimana cara bersosialisasi dengan baik dan benar.
    Suka, duka, capek, penat, haru, pilu semuanya tentu kami rasakan.
    Finally, 16 April 2016
    Malam itu memang malam yang panjang, suasana mencekam, dan raga pun seolah terdiam.
    Dua bendera besar pun mulai dikibarkan. Sebuah banner berukuran sedang terpampang jelas di depan kami. Alangkah terharunyaaaaaaa  bisa menyelesaikan proses ini yang lumayan panjang waktunya dibandingkan yang lain.
    Terimakasih buat seluruh elemen yang telah membimbing kami. Kami tentu tak akan lupa atas jasa kalian yang mengarahkan kami menjadi insan yang berkualitas dan bermanfaat.
    Well Fiya gak niat jadi spoiler disini. Cuma share kebahagiaan aja gapapa kali ya 
    See you next time, fellas
    Continue Reading

    Fisika itu sulit, tapi ya gak sulit-sulit amat”. Peribahasa dari mana itu? dasar kalau Pak Raden, guru Fisika di sekolahku sudah kebanyakan pikiran tentang kinematika gerak, dimensi, osilasi, dan lain sebagainya, kata-katanya pasti nglantur kemana-mana. Maklumlah usia Pak Raden sudah kepala lima. Kami menahan tawa karena takut dihukum karena ramai. Aku tak sengaja melihat Erga tersenyum kecil. Manis sekali pikirku. Andai diriku bisa melihat senyum Erga setiap hari. Ah... mungkin cuma mimpi, toh suatu saat Erga masuk ke kelas A1 bersama Tania karena mereka terkenal pintar. Sedangkan Aku bisa berharap masuk di kelas A2 bersama Elsa. Sadar diri, Aku ini masih berada di bawah level otak Erga dan Tania.
    Lirikannya membuat jantungku berdegup kencang. Dug... dug... dug... senyumnya merangsang listrik ke jantungku semakin lama semakin tak terarah dan ku rasa semua orang mendengar jeritan hatiku. Aku meremas tangan Elsa, teman sebangkuku yang sejak tadi masih membenahi dandanannya yang ‘sedikit’ amburadul.
                “Sakit...! Bentar, gue mau ngaca dulu... malu kan kalau ketemu cowok-cowok keren penampilan gue masih kayak orang-orangan sawah!”. Kata Elsa.
                Aku sama sekali tak menggubris omongan Elsa dan tetap fokus mengawasi setiap gerak-gerik Erga. Benar-benar menawan, pujiku. Tak sengaja Aku melihat Erga tersenyum kecil padaku. Hari itu benar-benar dipenuhi cinta yang sudah tak terbendung lagi rasanya.
                “Tanggal berapa hari ini, Sa?”. Tanyaku.
                “Hari ini? Kemarin? atau lusa?”. Elsa balik bertanya.
                Aku mengusap kepala. “Tuh cermin ditaruh dulu biar loading sama jalan ceritanya. Hari ini tanggal berapa ya?”.
                “Oh, iya-iya... Hari ini tanggal 8!”. Jawab Elsa yang masih memegang cerminnya.
    Emm...Mugkin gak ya kalau Erga beneran naksir Tania? Mereka sama-sama pinternya, kayak udah cocok banget jadi pasangan. First Plan, delapan Desember ini pengen gue jadiin hari paling bahagia dalam hidup gue.. Udah dapet senyumnya Erga, pengen kejutan lagi nih... Batinku.
    Tania adalah cewek kecil yang suka godain Erga saat dia sedang belajar serius. Dari situ lah Erga dan Tania begitu akrab, dan dari situ lah yang membuat Aku semakin ingin mengejar Erga. Suatu saat gue bakalan jadi penerus Einstein, bikin rumus tertentu buat menaklukan hatinya Erga. OPTIMIS!!!. Aku tersenyum lebar, tapi aku tak benar-benar yakin bisa membuat rumus seperti itu apalagi urusan hati, cinta, perasaan, dan logika. ARRGGH ribetnya.
    Bagai terbius, mulut tertutup lakban, badan pun terasa kaku saat Erga datang menghampiri mejaku. Bocah tampan itu sudah berdiri di depanku dan tersenyum kepadaku. Pikiran aneh-aneh mulai bermunculan. “Aku mencintaimu”. Kata yang paling ku tunggu tak kunjung keluar dari mulut manisnya. Namun bukannya niat menembakku, Erga justru meletakkan laptopnya di mejaku.
    “Nitip nge-Charge laptop ya!”. Kata Erga dengan santainya.
    GUBRAK!! Wajar bila wajahku seketika memerah bak kepiting rebus. Oh My God... Apa yang ku lakukan? Memasang tampang memerah dan salah tingkah. Benar-benar bukan tindakan yang patut dilakukan pada saat-saat seperti ini.
    !!!
                Nasi udah, sayur asem udah, lauk juga udah, terus kok masih ada yang kurang ya?. Mmm... Oh iya, sendok. Tapi masih ada yang kurang lagi, narsis dulu baru komplit.
                Aku mengambil handphone yang masih nangkring di dalam tasku. Aksi narsisku pun dimulai. Di tengah-tengah perjalananku menyantap hidangan buatan ibu, satu SMS masuk di handphone-ku.
                “Dari Erga.” Kataku polos. “Hah!!! Erga... WHAA!!! Ada angin apa nih? Idih.. mungkin cuma pertanyaan formal!”. Mulai berputus asa.
                Dengan sigap Aku membuka SMS dari Erga yang sempat membuatku hampir pingsan.
                From : Erga Dharmadika
                       Eh, besok PR nya apa aja??  -Erga-
                “Tuh kan bener apa kata gue pasti nanya PR, bosen deh gue!”. Gumamku.
                To : Erga Dharmadika
                       Fisika BKS hal.42 yg pilGan aja, jgn lupa dkasih prosesnya.
              From : Erga Dharmadika
                       Makasih ya :D
              Yah... Cuma bilang makasih?? Kasih kata apa gitu biar keren dikit. Misalnya ‘Nonton yuk!’ atau ‘Kapan-kapan jalan bareng ya!” atau begini lebih keren ‘Aku mencintaimu’. Eh, eh.. mana mungkin si Erga bilang kayak gitu ke gue. Lagi mimpi ya, Ta?? Bangun dong, Martha!
                To : Erga Dharmadika
                       Cuma bilang makasih?? Nanggung bgt sih.. :o
              From : Erga Dharmadika
                       Lha mintamu gmana? :D
              Duh...bego banget gue!
                To : Erga Dharmadika
                       Mmm.. gak jadi ga. Cuma bercanda :D
                       Pasti kamu lagi SMS an sama orang yg kamu suka, ya kan?
              From : Erga Dharmadika
                       Kepo.. :p
                       Emangnya sp yg kusuka? Kamu tau? Enggak kan.
    .         To : Erga Dharmadika
                       Tania lah.. Masak aku? Ya gk mngkin dong.. :)
              From : Erga Dharmadika
                       Ha? Tania, bukan dia. Kalo kamu, mungkin iya :D
              O-M-G.. Bukan Tania tapi bisa jadi Aku yang Erga sukai. AAAA.. benar-benar luar biasa. Jantungku seperti diledaki ratusan kembang api. Aksi SMS ku dengan Erga terus berlanjut sampai Aku menghabiskan makananku. Dan akan diteruskan lagi malam ini.
    !!!
                Erga mana ya kok gak SMS lagi? Apa Aku harus mulai duluan, aish.. jaim dong!. Rasa gelisah itu pun terus menyelimuti perasaanku. Aku baru menyadari bahwa Aku menyukainya. Tapi apalah daya jika memang Aku tak kan bisa menjadi pemenang di hatinya. Banyak wanita yang menyukainya, Erga bagaikan malaikat bagi peri-peri di sekitarnya.
    Menjaga image, satu hal yang sangat penting bagi setiap insan yang sedang dilanda asmara. Tapi hal inilah yang menurutku menjadi sebuah kekurangan dimana seseorang yang menjaga image-nya justru malah tak menjadi perhatian si do’i. “Oissh.. Bahasa gue tinggi banget ya?”.
    Dengan langkah pasti menuju impian dan tujuan yang lebih baik, Aku memberanikan diri mengawali SMS ku dengan Erga. Aku berharap semoga SMS ku berhasil masuk, dan dibalas dengan baik dan benar.
    To : Erga Dharmadika
              Mmm.. lagi sibuk ya ga?
    “Aku berharap semoga SMS ku berhasil masuk, dan dibalas dengan baik dan benar”. Pintaku. “OK, kirim!!”.
    Selang beberapa menit kemudian Erga membalas SMS. Dan inilah cuplikan SMS ku dengannnya.
    From : Erga Dharmadika
              Nggak tha... kamu sendiri gmana?
    To : Erga Dharmadika
              Gk gmana2. Kmu gak SMS an sama Tania?
    From : Erga Dharmadika
    Aku itu gak ada apa2 sama dia... kok kamu gk ngerti2 sih apa maksudku..
              To : Erga Dharmadika
                       Apa sih ga?? Aku emang beneran gk tau
              From : Erga Dharmadika
                       Harus sekarang ya?
                Apaan ini? Erga semakin membuatku bingung dengan balasan SMS nya. Apanya yang sekarang? Aku gak mengerti apapun tentang dia dan Tania. Jangan-jangan dia mau bilang kalau dia gak suka sama Tania atau malah sebaliknya.
                To : Erga Dharmadika
                       Skrng aja gpp kok, mungkin aku jg gak ada sangkutannya
              Satu menit, lima menit, sepuluh menit berlalu dia tak kunjung membalas SMS ku. Aku resah apa sebenarnya yang ingin dikatakannya. Dan di menit ke tiga belas dia baru membalas SMS ku.
                From : Erga Dharmadika
                       Aku suka sama kamu. Aku mencintaimu :)
                Tanganku bergetar membaca SMS darinya. Mulutku terdiam, mataku terpana pada tulisan itu dan seolah-olah Aku sedang melayang tinggi di angkasa. AAAA.. ini memang luar biasa. Jantungku tak lagi diledaki ratusan kembang api, tapi milyaran kembang api dan dijatuhi bunga-bunga yang bermekaran.
                “Aku pemenangnya. Dia mengatakannya!”. Kata batinku.
                Tak ingin membuang kesempatan yang ada Aku segera membalas SMS nya.
                To : Erga Dharmadika
                       Aku juga menyukaimu... :)
              Last Planning Today, delapan Desember ini udah gue jadiin hari paling bahagia dalam hidup gue.. Udah dapet senyumnya Erga, SMS an full dengan Erga, dan yang terakhir... ditembak Erga. Batinku.
    !!!
                “HAYOO... nglamun apaan?”. Suara Elsa mengagetkanku disaat Aku sedang bernostalgia mengenang masa-masa pertama kali Erga menembakku.
                “Sialan Lo..! Untung gak serangan jantung!”. Kataku.
                Elsa terpingkal-pingkal melihatku begitu kikuk dibuatnya. “Haha.. muka Lo lucu banget! Gimana hubunganmu dengan Erga? Masih baikan dong”. Tanya Elsa.
                Aku terdiam tak mampu mengatakan yang sebenarnya terjadi denganku dan Erga. Perlahan air mataku mulai menetes.
                “Hei, kok nangis? Pasti ada sesuatu nih. Cerita dong Tha!”. Pinta Elsa.
                “Erga cemburu waktu gue deket sama Reno. Eh maksudnya bukan deket dalam arti begituan, tapi Cuma sekedar rekan satu kelompok aja kok. Menurutku itu biasa, lagian si Erga sendiri aja yang sensitifnya kebangetan! Tadi pagi dia mau mutus gue.”. Kataku kesal.
                “Itu kan hal wajar kalau Erga emang sayang sama Lo. Itu bukti kalau dia masih perhatian. Coba kalau gak diperhatian, pasti dia gak bakalan marah waktu kamu deket sama cowok lain”. Terang Elsa sambil menyeruput minuman soda nya. “Udah ya nangisnya, masak kamu nangis cuma gara-gara cowok sih. Lagian kita kan udah mau kuliah, fokus dulu jadi mahasiswi”. Lanjutnya.
                Aku mengusap air mata yang sudah membasahi pipiku. “Nah itu dia, gue mau ke Bandung. Gue mau kuliah di sana!”. Kataku.
                “Kapan? Udah ngomong ke Erga belum?”. Tanya Elsa.
                “Besok pagi gue berangkat. Belum ngomong sama dia, rencananya hari ini gue mau ngomong ke dia. Semoga ngambeknya udah reda!”. Kataku sambil tersenyum kecil.
                “Yah, bakalan kangen banget gue sama Martha!”. Ucap Elsa sambil memelukku. “Hati-hati ya besok! Jaga kesehatan di sana!”.
                “Pasti. Makasih banyak ya, Sa!”. Aku tersenyum bahagia memiliki sahabat yang care banget. Be Happy, Martha! :)
    !!!
                Entah mengapa pagi ini Aku sama sekali tak bersemangat untuk berangkat menuju Kota Kembang. Setelah kejadian yang menimpaku kemarin mataku menjadi sembab. Aku meraih tas yang berat isinya mencapai lima ton (haha.. Cuma bercanda). Hei.. lihat saja isinya, buku, baju, perkakas rumah tangga, semua masuk di sini. Aku menentengnya menuju bis yang membawaku menuju stasiun kota.
                Tiga puluh menit lagi kereta datang. Aku begitu tak nyaman dengan perasaanku. Aku mengambil ponsel di dalam tas dan menelfon Elsa.
                “Sa, gue udah di stasiun. Kamu lagi ngapain?”. Kataku di telpon.
                “Oh iya Tha, Aku lagi main sama adekku. Udah ngomong sama Erga kan?”. Tanya Elsa.
                “Belum Sa. Kemaren waktu gue mau ngomong, dia langsung pergi gitu aja ninggalin gue sendirian. Trus gue juga nemu mawar di sekitar dia berdiri, apa itu punya Erga ya? Ini mawarnya gue bawa ke Bandung. Waktu gue SMS dia balesnya lama, balesnya pun cuek banget..nget... Aku jadi merasa bersalah. Padahal niat gue cuma pengen ngasih salam perpisahan semoga ketemu lagi suatu saat nanti. Tapi ya udahlah, Erga mungkin udah benci banget sama gue. Tolong ya Sa, sampein salam gue ke Erga. Aku sayang banget sama dia!”. Kataku yang mulai meneteskan air mata.
                “Ya ampun Tha, Erga kok gitu banget ya. Iya ini mau gue kasih tau tuh si Erga! Tenang aja Tha, moga selamat sampai tujuan ya!”. Kata Elsa menutup percakapanku dengannya.
                Kereta menuju Bandung pun tiba setelah tiga puluh menit menunggu di ruang tunggu stasiun kota. Aku mendapat duduk di gerbong tiga.
                Erga lagi ngapain ya sekarang?. Tanyaku dalam hati.
                Jujur saja, Aku masih tak rela jika meninggalkan kota kelahiranku ini, tapi Aku harus menempuh pendidikan di sana.
                First on the second plan, menjadi mahasiswi yang baik, lulus dengan nilai terbaik, membahagiakan semua orang, dan... bertemu Erga suatu hari nanti!. This is my love plan.
    -Bersambung-


    Tunggu kehadiran cerpen terbaru Fiya berjudul MIRACLES (LOVE PLAN 2). Itu adalah lanjutan cerpen LOVE PLAN di atas. Semoga kalian gak bosen-bosennya ngintip isi blog ini, dan jangan  lupa untuk tinggalkan komentar kalian di sini... Happy reading ^_^
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About me


    Photo Profile
    Kafiyatul Fithri ENGINEERING STUDENT

    Spread Kindness Like Confetti


    An engineering student who loves words by share it to the others through the pen and the lens

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    Community

    Blogger Perempuan

    Labels

    BPN BPNRamadhan College Food HighSchool Lifestyle SepuluhNopember Story Thought
    Foto saya
    Kafiyatul Fithri
    Lihat profil lengkapku

    Recent Post

    Sreet Food Bundaran ITS Surabaya : Euphoria Ramadan a la Kampus Pahlawan

    Popular Posts

    Contact Us

    Nama

    Email *

    Pesan *

    Followers

    Visitors

    Blog Archive

    • Mei 2019 (1)
    • Februari 2019 (1)
    • Januari 2019 (1)
    • November 2018 (1)
    • Agustus 2018 (1)
    • Juni 2018 (1)
    • Maret 2018 (2)
    • Mei 2017 (1)
    • Oktober 2016 (1)
    • Agustus 2016 (2)
    • Juli 2016 (3)
    • Juni 2016 (3)
    • April 2016 (1)
    • Februari 2014 (1)
    • November 2013 (8)

    Cari Blog Ini

    Laporkan Penyalahgunaan

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top